Pengamat: Mahfud Penuhi Tiga Kriteria Cawapres

ant    •    Kamis, 12 Jul 2018 17:12 WIB
pilpres 2019
Pengamat: Mahfud Penuhi Tiga Kriteria Cawapres
Ketua KPK Agus Rahardjo (kanan) bersama mantan Ketua MK dan anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Mahfud MD menyampaikan keterangan pers di Gedung KPK, Jakarta, Senin (25/6/2018). Foto: MI/Rommy Pujianto

Jakarta: Sosok mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD memiliki tiga kriteria utama sebagai bakal calon wakil presiden yaitu kapabilitas, integritas, dan akseptibilitas di kalangan elit serta masyarakat.

"Ada tiga hal bagaimana Jokowi dan partai koalisi menentukan kriteria cawapres yang akan mendampingi Jokowi yaitu kapasitas, integritas, dan akseptabilitas. Mahfud MD memenuhi ketiga persyaratan tersebut," kata pengamat politik The Indonesian Institute, Arfianto Purbolaksono seperti dilansir Antara, Kamis, 12 Juli 2018.

Dia menjelaskan, Mahfud MD memiliki kapasitas di bidang hukum yang tidak perlu diragukan karena mantan ketua MK dan juga seorang guru besar hukum. Menurut Anto sapaan Arfianto, kalau Jokowi dan parpol koalisi menilai permasalahan penegakan hukum masih menjadi "pekerjaan rumah" sehingga perlu menjadi prioritas lima tahun kedepan,  sangat cocok atau pas menunjuk Mahfud sebagai pendamping Jokowi di Pilpres.

"Salah satu hal yang belum berjalan dengan baiknya di era reformasi adalah penegakan hukum sehingga keberadaan Mahfud ketika menjadi wapres bisa mendorong penegakan hukum lebih baik," katanya.

Anto menilai Mahfud memiliki rekam jejak baik sebagai ketua MK dan sebagai seorang guru besar, sehingga secara keilmuan cukup kuat. Hal itu menurut dia dibarengi integritas Mahfud, sehingga apa yang dilakukan bukan hanya sekadar berbicara namun juga menjalankan apa yang dikatakannya.

"Dari sisi aspek integritas, kriteria ini sangat penting karena di saat negeri ini sedang memerangi korupsi maka dibutuhkan pemimpin yang bersih," ujarnya.

Anto mengatakan dari sisi akseptabilitas di kalangan elit maupun publik secara luas, Mahfud merupakan sosok yang dapat menjembatani Jokowi ke kelompok-kelompok yang selama ini dianggap berseberangan, dan di sisi lain dapat membantunya secara elektabilitas. Kalangan Islam tradisional menurut dia, Mahfud dapat diterima dikalangan Islam tradisional dan moderat, sehingga hal itu yang menjadi kelebihan
Mahfud.

"Di dalam penerimaan publik, saya rasa dengan selalu masuknya nama Mahfud dalam survei maupun opini para ahli, menandakan beliau diterima secara publik," katanya.

Dia memberikan catatan terkait akseptabilitas di kalangan "opiniom leader", tenaga ahli, pengamat, para ahli dan akademisi, nama Mahfud selalu masuk dalam lima besar karena kemampuan sebagai guru besar dan pernah memimpin MK.

Namun Anto menilai ditingkat masyarakat, belum terlihat suara signifikan yang dimiliki Mahfud, apabila dibandingkan dengan Anies Baswedan dan Gatot Nurmantyo.

"Mungkin karena Mahfud belum deklarasi maju di Pilpres 2019 namun hal itu bisa disiasati dengan kuatnya latar belakang Mahfud dari kalangan Islam tradisional dan modern serta kalangan Nahdlatul Ulama," ujarnya.

Dia menilai Mahfud harus mencari cara untuk lebih menggaet pemilih di kalangan kelas menengah yaitu dengan mengusung isu-isu yang pas misalnya bagaimana mengawal proses pembangunan infrastruktur tanpa ada korupsi, pemerataan ekonomi dan penegakan hukum lebih baik.

Anto meyakini dengan melihat sosok Mahfud yang memiliki kemampuan dan kapasitas mendampingi Jokowi, partai politik koalisi akan mendukungnya menjadi cawapres meskipun beberapa partai memiliki kandidat sendiri.


(MBM)