Partai Politik Sering Gagap Memunculkan Figur di Pilkada

   •    Selasa, 14 Nov 2017 14:24 WIB
pilkada 2018
Partai Politik Sering Gagap Memunculkan Figur di Pilkada
Pengamat Politik Gun Gun Heryanto (kanan). (Foto: MI/Arya Manggala)

Jakarta: Pengamat Politik Gun Gun Heryanto menyebut partai politik sering kali gagap saat memunculkan figur dalam kontestasi pilkada. Hal inilah yang menyebabkan sejumlah parpol memilih figur dari luar partai untuk didukung atau diusung dalam kontestasi pemilu di daerah.

Menurut Dia, ada beberapa alasan mengapa parpol lebih menyukai figur yang bukan kadernya ketimbang mempersiapkan calon dari kalangan sendiri.

"(Salah satunya) faktor penjenjangan itu sering terlambat. Misalnya orang yang bagus di daerah justru tidak dimunculkan di daerah tetapi ke pusat. Ketika sudah di pusat, di daerah jadi abai sehingga saat pilkada stok kepemimpinan daerah jadi tidak ada," kata Gun Gun, dalam Metro Siang, Selasa 14 November 2017.

Gun Gun mengatakan hal ini hampir terjadi di semua parpol besar. Rata-rata dari parpol mengalami problem dalam konteks figur yang mempunyai dasar elektoral yang memadai di daerah. Padahal pada 2018 nanti ada 171 daerah yang berpilkada, seharusnya partai politik punya 'stok' kader yang bisa diajukan sebagai calon.

Persoalan lainnya juga terkait dengan banyaknya tokoh baik petahanan maupun perdana di daerah yang bukan kader parpol tetapi memiliki magnet di pusaran pasar elektoral. Sebutlah Ridwan Kamil.

"Ridwan Kamil tingkat elektabilitas dan popularitasnya leading, meskipun akseptabilitasnya masih di bawah yang lain tapi elektabilitasnya paling tinggi," katanya.

Menurut Gun Gun pada dasarnya figur calon yang diusung dalam pilkada bukan soal partai atau nonpartai, tetapi lebih kepada kredibilitas, rekam jejak, dan kemampuan bukan hanya kemampuan intelektual tetapi juga sosial dan profesionalitasnya.

Misalnya banyak orang yang tidak berafiliasi ke parpol tetapi kinerjanya saat menjabat bupati, wali kota, maupun lainnya bagus. Karena inilah mau tidak mau, suka tidak suka, yang sebenarnya bukan kader partai didorong untuk menjadi kandidat yang bukan hanya didukung namun kerap langsung diusung.

"Diusung itu proses kandidasi, seharusnya menjadi pembelajaran bagi parpol karena sering kali proses kandidasi yang terlambat menyebabkan semua partai besar mengalami kegamangan pada saat proses pendaftaran dimulai," katanya.




(MEL)