Pengamat: Golkar Harus Percaya Diri Pilih Ketum

Antara    •    Selasa, 05 Dec 2017 22:44 WIB
partai golkarkisruh partai golkar
Pengamat: Golkar Harus Percaya Diri Pilih Ketum
Ketua DPR RI Setya Novanto dikawal petugas memasuki Gedung KPK, Jakarta, Kamis (23/11/2017). Foto: MI/Rommy Pujianto

Jakarta: Golkar sebagai partai besar harus percaya diri dalam mengatasi persoalan internal setelah ketua umumnya, Setya Novanto menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Partai yang selalu menjadi jawara pemilu di era Orde Baru itu mestinya bisa mengatasi masalah internal tanpa menyeret-nyeret Presiden Joko Widodo ataupun Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Saran itu disampaikan pengamat politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten Leo Agustino. Menurutnya, Golkar merupakan partai yang unik dan dinamis.

"Karena keunikannya Golkar bisa bertahan hingga saat ini. Kalau kedinamisannya jangan ditanya, sebab partai ini selalu menjadi ajang rebutan tokoh politik nasional," kata Leo seperti dilansir Antara, Selasa, 5 Desember 2017.

Leo menambahkan, Presiden Jokowi yang bukan kader Golkar justru harus berhati-hati mencermati berbagai upaya untuk menariknya ke masalah internal partai berlambang beringin itu. Sebab, siapa pun ketua umum Partai Golkar pasti punya ambisi pribadi.

"Saya tidak terlalu bersepakat apabila ketum partai tidak punya agenda pribadi. Secara tersurat sangat mungkin mereka akan menyatakan arah kebijakan yang mereka ambil berasal dari aspirasi akar rumput. Tapi implementasinya selalu saja akan ada agenda balik layar yang tidak pernah kita ketahui," kata dia.

Menurut Leo, ada hal yang menarik dari sikap yang diperlihatkan Presiden Jokowi soal Golkar. Meski Jokowi sudah berkali-kali tak mau melakukan intervensi ke partai politik, tapi ada saja upaya untuk menyeretnya ke dalam persoalan Golkar.

"Jangan-jangan memang gelagat politisi kita yang selalu mengambil kesempatan dalam setiap jabatan yang disandangnya untuk merealisasikan agenda-agenda pribadinya. Karena itu Jokowi mewanti-wanti sejak awal meski dia tahu tabiat politisi kita," imbuhnya.

Meski demikian Leo mengakui bahwa Golkar memang perlu mengganti ketua umum. Sebab, partai yang kini dipimpin Setya Novanto itu menghadapi tantangan besar, yakni Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.

"Pada dasarnya saya setuju Golkar harus di-take over guna menjaga citra partai. Ini bukan hanya terkait dengan perhelatan tahun 2019, tapi juga Pilkada Serentak tahun 2018. Golkar perlu mendulang suara guna persiapan 2019," paparnya.

Leo juga mengingatkan siapa pun ketua umum pengganti Novanto nanti bisa menjaga konsolidasi dan mengayomi semua kelompok kepentingan di Golkar.  "Sebagai pemimpin yang baik ya memang harus mampu mengayomi semua walau dalam internal partai saya pikir akan terjadi pergantian gerbong," kata dia.


(MBM)

Kuasa Hukum Novanto Sebut Dakwaan KPK Bermasalah

Kuasa Hukum Novanto Sebut Dakwaan KPK Bermasalah

1 day Ago

Pengacara terdakwa kasus korupsi KTP-el Setya Novanto, Maqdir Ismail menuding dakwaan milik KPK…

BERITA LAINNYA