Marsekal Hadi Singgung soal Perubahan Ancaman Keamanan

Ilham wibowo    •    Rabu, 06 Dec 2017 12:58 WIB
panglima tni
Marsekal Hadi Singgung soal Perubahan Ancaman Keamanan
Calon Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Foto: MTVN/Ilham Wibowo.

Jakarta: Calon Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyinggung soal perubahan ancaman keamanan saat uji kepatutan dan kelayakan di Komisi I DPR. Masalah ini, kata dia, akan berdampak kepada kebijakan yang harus diambil di dalam negeri.

"Izinkan saya memberikan sedikit gambaran bahwa dinamika lingkungan strategis baik pada lingkup global maupun regional secara langsung dan berkelanjutan akan mempengaruhi pengambilan kebijakan dan cara-cara bertindak strategis oleh semua pemangku kepentingan penyelenggara negara," kata Hadi di ruang rapat Komisi I, Rabu, 6 Desember 2017. 

Hadi menyoroti tiga hal, yakni, teknologi, informasi komunikasi, dan transportasi. Ketiganya akan mempengaruhi interaksi antarmanusia maupun antarnegara. Perubahan ini memunculkan fenomena baru yang mengubah perspektif ancaman terhadap pertahanan negara. 

"Dampak perubahan besar ini telah memunculkan bentuk-bentuk friksi bahkan konflik baru yang berbeda dari apa yang pernah ada sebelumnya," papar dia. 

TNI, kata dia, perlu mentransformasi dirinya menjadi suatu organisasi pertahanan negara yang profesional, modern, dan tangguh. Hal itu sesuai dengan semangat transformasi dalam amanat konstitusi. 

"Maka diperlukan payung hukum yang kuat, penyesuaian doktrin yang integratif, pengembangan SDM berjiwa satria, militan, loyal, dan profesional yang dilengkapi dengan perlengkapan alutsista (alat utama sistem persenjataan) yang modern," tutur dia.

Baca: Hadi Tjahjanto. Calon Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. MTVN-Ilham Wibowo

Menurut Hadi, konstelasi dunia saat ini tidak lagi bipolar atau unipolar. Akan tetapi, negara menghadapi ancaman unimultipolar ketika kekuatan negara superpower tersaingi dengan kekuatan ekonomi baru dari negara lain. 

"Dalam realita ini kekuatan-kekuatan yang berkonflik tidak akan lagi didominasi oleh entitas negara tetapi juga nonnegara. Dampak lanjutannya adalah diameter konflik tidak menjadi simetris, melainkan lebih sering bersifat asimetris, proxy, dan hibrida," ujar dia. 





(OGI)