Pansus RUU Pemilu ke Jerman

Sarapan di Bus, Makan Malam di Kereta

   •    Selasa, 21 Mar 2017 07:59 WIB
revisi uu pemilu
Sarapan di Bus, Makan Malam di Kereta
Johnny G. Plate. Foto: MI/M. Irfan

Metrotvnews.com, Jakarta: Anggota Panitia Khusus RUU Pemilu dari Fraksi Partai NasDem Johnny Plate menegaskan kepergian pansus ke Jerman dan Meksiko tidak dalam rangka pelesiran. Saking padatnya agenda, anggota pansus sarapan di bus dan makan malam di kereta.

"Sama sekali tidak ada pelesiran. Yang pasti kunjungan kerja itu waktunya lima hari. Pergi-pulangnya dua hari. Tiga hari kita rapat maraton dengan MK Jerman, Kementerian Dalam Negeri dan General Election Committee (GEC)," kata Johnny di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin 20 Maret.

Ia pun menceritakan, karena agenda padat, akhirnya waktu makan pun harus dilakukan selama perjalanan.

"Tidak ada yang namanya jalan-jalan ke mal atau destinasi wisata. Bahkan makan pagi di bus, makan malam di kereta. Pada saat ke Berlin, sempat mogok di bandara. Kita mau bertemu dengan MK di kota lain yang berjarak 5,5 jam perjalanan. PP saja 11 jam," terangnya.

Ia menyampaikan, anggota pansus menyadari sepenuhnya koreksi dan pendapat masyarakat bahwa kunker itu jangan sampai untuk menghambur-hamburkan uang dan jalan-jalan.
"Pada saat kunker hal itu masih diperhatikan," tegasnya.

Di Jerman, kata Johnny, pansus banyak mendapat masukan mengenai penggunaan e-voting. E-voting tidak digunakan karena sulitnya membuktikan protes dari warga jika ada kecurangan.

Terpisah, Wakil Ketua Pansus RUU Pemilu dari Fraksi Partai Amanat Nasional Yandri Susanto mengatakan informasi dari hasil kunjungan kerja ke Jerman dan Meksiko akan dikompilasi dalam pembahasan RUU Pemilu.

Yandri mengakui sebelumnya mereka memang setuju e-voting ditetapkan. Namun, setelah melakukan kunjungan ke Jerman, mereka sepakat untuk tidak meneruskan pembahasan penerapan e-voting. Alasannya, e-voting rawan diretas.

Pihaknya lebih setuju jika dilakukan penghitungan berbasis elektronik. Penerapan e-counting menurutnya akan mempercepat proses penghitungan suara.

"Di kereta langsung kami putuskan e-voting tidak perlu. Kita perlunya e-counting, jadi rekap di TPS langsung direkap teknologi yang kita siapkan. Kan ada 450 ribu TPS, KPU pun belum berani mengumumkan sebelum ada real count. Di Jerman 90 ribu TPS, dalam empat jam ketahuan siapa pemenangnya. Tidak perlu lagi dari TPS, lalu ke PPS, PPK, dan seterusnya," pungkasnya.


(TRK)