Peran Tokoh Agama Penting Halau Isu SARA

Nur Aivanni    •    Jumat, 14 Oct 2016 21:45 WIB
pilgub dki 2017
Peran Tokoh Agama Penting Halau Isu SARA
Benny Susetyo. Foto: MI/Susanto

Metrotvnews.com, Jakarta: Isu terkait suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) terus digulirkan jelang pemilihan kepala daerah (pilkada) 2017. Khususnya di DKI Jakarta, isu SARA sangat terasa digunakan untuk menjatuhkan lawan kandidatnya. 

Apalagi, beberapa waktu lalu sensitivitas publik sedikit terusik dengan insiden pencatutan ayat suci oleh petahana yang memantik kontroversi di publik.

Untuk meredam isu SARA, Pengamat Etika dan Komunikasi Politik Benny Susetyo menekankan bahwa saat ini peran tokoh agama sangat dibutuhkan. Ia meminta agar tokoh agama bisa mengeluarkan pernyataan yang menyejukkan tanpa menggunakan SARA.

"(Tokoh agama seharusnya) Mengajak rakyat berpolitik rasional. Peran tokoh agama menjadi penting. Tokoh agama tidak perlu masuk ke dalam politisasi agama, tapi mengingatkan masyarakat agar masyarakat lebih rasional, memilih seseorang berdasarkan rekam jejak yang baik, tidak korupsi, mencintai rakyat, tidak menyalahgunakan kekuasaan dan punya komitmen keadilan," tuturnya usai acara diskusi yang bertajuk Pilkada 2017: Manuver Isu SARA vs Politik Akal Sehat, di Jakarta, Jumat (14/10).

Ia pun mengatakan isu SARA justru akan menguntungkan petahana. Pasalnya, kinerja petahana dalam menjalankan roda pemerintahannya tidak dikritisi.

"Apakah betul APBD-nya untuk kesejahteraan rakyatnya? Sekarang kan hanya suku, agamanya mana (yang dipermasalahkan). Tentang parameter keberhasilan pemerintah sekarang enggak ada kritisnya," ujarnya.

Ia pun menyoroti bahwa isu SARA tidak akan laku bagi masyarakat saat ini yang sudah berpikir rasional. Masyarakat yang rasional, kata dia, menginginkan sosok pemimpin yang mampu menjual ide gagasan atau programnya.

"Isu agama tidak akan laku di publik karena publik berharap pemimpin ke depan mengedepankan isu yang mengangkat kesejahteraan rakyat," ucapnya.

Sementara itu, Rais Syuriah PB Nahdlatul Ulama Masdar F. Masudi pun sepakat bahwa SARA tidak boleh dijadikan alat konflik dan mendelegitimasi orang.

"Itu tidak ada gunanya. Kalau mau kritis adalah soal ketidakadilan," ucapnya.

Hal senada pun diutarakan Dosen Komunikasi FISIP UI Ade Armando. Menurutnya, pernyataan lembaga keagamaan saat ini dibutuhkan untuk meredam konflik SARA saat ini. Ia meminta agar mereka dengan tegas menyatakan bahwa isu SARA jangan digunakan dalam kontestasi pilkada 2017. Pasalnya, isu SARA akan menimbulkan keretakan bangsa ini.

"Mereka harus bicara stop gunakan agama," tandasnya.


(MEL)