Diam-Diam, Anies Perjuangkan Pembebasan Novel

Husen Miftahudin    •    Sabtu, 02 May 2015 11:45 WIB
novel baswedan
Diam-Diam, Anies Perjuangkan Pembebasan Novel
Anies Baswedan----MTVN/Husen

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan mengaku terus memperjuangkan pembebasan sepupunya, Novel Baswedan yang ditangkap Bareskrim Polri. Namun, upaya pembebasan tak dilakukan secara terbuka.

"Waktu saya jadi civil society yang bisa datang kapan saja dan di mana saja, karena punya banyak waktu. Sekarang saya bawa institusi, saya kerjakan namun tidak dalam keterbukaan. Saya kerjakan dalam keadaan sunyi," kata Anies usai memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di kantornya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Sabtu (2/5/2015).

Anies mengaku tak bakal berhenti berjuang demi adik sepupunya itu. Meski kini, dirinya menjadi menteri di Kabinet Jokowi. Karena ia yakin, Novel Baswedan hanya korban intrik politik.

Dia menyebut, terus berkomunikasi dengan sejumlah pihak untuk membebaskan Novel. "Saya sudah komunikasi dengan banyak pihak," pungkas Anies.

Kasus yang menjerat Novel terjadi saat dia menjabat Kasat Reskrim Polres Bengkulu pada 2004 lalu. Pada 2012, kasus ini diungkit kembali jelang Irjen Pol Djoko Susilo ditahan KPK terkait kasus korupsi simulator. SBY yang kala itu menjadi presiden meminta Polri menghentikan kasus Novel.

Namun saat hubungan Polri dan KPK merenggang setelah penetapan Budi Gunawan sebagai tersangka, Polri kembali menghidupkan kasus ini. Novel pun sempat dipanggil pada Februari lalu. Selang tiga bulan, Novel dicokok penyidik.

Adik sepupu Anies Baswedan itu ditangkap di rumahnya di kawasan Kelapa Gading Jumat dini hari pukul 00.30 WIB. Surat perintah penangkapan Novel diregistrasi dengan Nomor SP.Kap/19/IV/2015/Dittipidum yang memerintahkan Bareskrim untuk membawa Novel ke kantor polisi.

Selang sembilan jam setelah diperiksa, Novel dibawa ke Mako Brimob untuk kemudian dibawa ke Bengkulu. Surat perintah penahanan Novel bernomor SP.Han/10/V/2015/Ditipidum memerintahkan agar Novel sebagai tersangka di rumah tahanan negara cabang Mako Brimob selama 20 hari terhitung 1 Mei sampai 20 Mei 2015 yang ditandatangani oleh Direktur Tindak Pidana Umum Brigjen Pol Herry Prastowo.

Pencokokan Novel membuat Presiden Jokowi berang. Jokowi meminta Badrodin membebaskan Novel dan meminta Polri tak bertindak kontroversial.


(TII)