ACT Jadi 'Dewa' di Gorkha Nepal

Githa Farahdina    •    Senin, 04 May 2015 15:16 WIB
gempa nepal
ACT Jadi 'Dewa' di Gorkha Nepal
ACT memberikan bantuan kepada warga di Baseri, wilayah pegunungan Gorkha, Nepal --- Foto: Aksi Cepat Tanggap (ACT)

Metrotvnews.com, Gorkha: Organisasi Aksi Cepat Tanggap (ACT) telah membantu korban gempa bumi di berbagai wilayah di Nepal sejak Rabu pekan lalu. Tim ACT mulai bergesar dari ibu kota Kathmandu ke wilayah lain di dekat episenter gempa 7,8 Skala Richter.

"Aksi kami geser ke Desa Baseri, karena sudah banyak NGO (Non-Government Organisation) beraksi di Kathmandu dan desa-desa sekitarnya, padahal episentrum gempa Nepal justru di distrik Gorkha," jelas Syuhelmaidi Syukur, ketua ACTion Team for Nepal dari ACT.

Syuhel menyebut perjalanan menuju ke Gorkha tidak mudah. "Kami empat jam berkendara dengan mobil, itupun harus yang 4WD, kemudian disusul jalan kaki. Kami melintasi desa Arughat, desa Arkect. Di sini kami belanja logistik lebih dari 5 ton untuk warga Baseri," jelas Syuhel, dalam rilis yang diterima Metrotvnews.com.

Menurut Syuhel, belanja logistik di lokasi sudah menjadi prosedur standar operasi ACT agar ekonomi lokal juga bergerak. "Biasanya sepekan hingga sebulan pasca bencana besar, ekonomi lokal mengalami stagnasi. Membelanjakan berbagai bantuan natural di sekitar kawasan bencana, membantu pemulihan ekonomi setempat," ungkap dia.

Dari lokasi ini, tim ACT menyewa 25 keledai untuk membawa logistik bantuan. Perjalanan ke desa Baseri memakan waktu hingga sekitar delapan jam.

Bahan bantuan yang diberikan berupa dal (kacang hijau giling), bitter rice (beras yang dipress jadi pipih menyerupai oats, biasa dimakan untuk sarapan), garam dan minyak goreng.  Bitter rice ini dalam bahasa Urdu disebut curra.

Tiba di lokasi, sesepuh Baseri mewakili warga mengucapkan , "Terima kasih banyak, sahabat-sahabat datang dari jauh, dari Indonesia, ke desa kami di gunung seperti ini. Kami bahagia sekali Anda datang dengan bantuan sebanyak ini. Danyabat (terima kasih)…namaste (salam)," ujar Homad Neupane.

Bambang Triyono, salah satu anggota tim, tak kuasa menahan haru. Bahkan, pujian warga dirasa terlalu berlebihan. "Masa, kami berkali-kali usai bubaran seremoni pembagian, dikerumuni warga, semua berkali-kali mengatakan we are very happy."

Tak hanya kata-kata itu yang membuatnya jengah. "Ada yang bilang, 'kalian seperti dewa bagi kami, sungguh, kalian jadi dewa kami hari ini.'" Seorang pemuda di lokasi berkata pada tim, "saya bersumpah demi jiwa ibu saya, sungguh, ini (bantuan) yang pertama kali untuk desa kami. Danyabat."

"Sambutan mengharukan ini, membuat kami bangga sebagai wakil Indonesia," kata Bambang.

Selain mendistribusikan bantuan bahan pangan, obat-obatan dan sandang, ACT juga menyiapkan shelter (tempat perlindungan) terintegrasi. Untuk bencana berskala besar yang menuntut dukungan jangka panjang, ACT menyiapkan integrated community shelter (ICS) di mana sejumlah shelter diintegrasikan dalam satu area, sehingga bantuan apapun bisa terpantau dan terkelola dengan baik.

"Kebersamaan penanganan, ikut membantu percepatan pemulihan sosial dan psikologis korban bencana," jelas Syuhel.

Selain itu, Syuhel menjelaskan ACT menyiapkan posko kemanusiaan di Kathmandu sebagai sentra koordinasi relawan dan donor.

"Sentra ini memungkinkan semua bantuan terkelola dengan baik. Di posko ini pula, relawan lokal dan tenaga pendukung bisa bersiap-siap menerima estafet kelembagaan saat kami sebagai elemen asing harus kembali. Dimanapun ACT beraktivitas, baik di mancanegara maupun terlebih di Indonesia, relawan-relawan lokal menjadi bagian keluarga besar gerakan kemanusiaan bersama ACT," kata Syuhel.

Hingga saat ini, jumlah korban tewas akibat gempa Nepal telah melampaui 7000 orang, dengan 14 ribu lainnya terluka.


(WIL)