Laju Ekonomi RI Kian Melambat, Ini Penjelasan BPS

Suci Sedya Utami    •    Selasa, 05 May 2015 16:38 WIB
pertumbuhan ekonomi
Laju Ekonomi RI Kian Melambat, Ini Penjelasan BPS
Kepala BPS Suryamin (MI/GRANDYOS ZAFNA)

Metrotvnews.com, Jakarta: Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia kian melambat. Kuartal I-2015 ini saja ekonomi nasional hanya tumbuh 4,71 persen atau melambat bila dibandingkan periode yang sama di tahun lalu yakni 5,14 persen. Lantas, apa yang menjadi penghambat laju pertumbuhan kali ini?

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menjelaskan, setidaknya terdapat dua faktor yang membuat pertumbuhan ekonomi di Indonesia semakin tersungkur, yakni dari sisi produksi dan sisi pengeluaran. 

Suryamin menjelaskan, dari sisi produksi disebabkan oleh produksi pangan yang menurun akibat mundurnya periode tanam. Begitu juga dengan produksi minyak mentah dan batu bara mengalami kontraksi sehingga industri kilang minyak juga tumbuh negatif.

"Distribusi perdagangan juga melambat karena menurunnya suplai barang impor. Serta kinerja konstruksi melambat terkait dengan terlambatnya realisasi belanja infrasruktur," ujar Suryamin, di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2015).

Sedangkan dari sisi pengeluaran, lanjut dia, disebabkan karena semua pengeluaran konsumsi rumah tangga melambat, kecuali untuk makanan, minuman, dan tembakau serta perumahan dan perlengkapan rumah tangga. 

Pengeluaran konsumsi pemerintah juga ikut melambat karena pertumbuhan belanja barang yang melambat. Demikian juga realisasi belanja pemerintah lebih rendah dibanding realisasi belanja di kuartal I-2014.

"Belanja pemerintah kuartal pertama tahun ini lebih rendah 50 persen dari periode yang sama tahun kemarin," Direktur Neraca pengeluaran BPS Sri Soelistyowati menambahkan.

Selain itu, sisi pengeluaran juga dipengaruhi impor barang modal yang menurun, terutama untuk barang modal jenis alat angkutan dan mesin. Selain itu industri mesin domestik juga turun. Sri menambahkan, ekspor barang pun terkontraksi akibat turunnya harga komoditas serta melambatnya perekonomian negara mitra dagang utama Indonesia.

"Seperti Tiongkok yang merevisi target pertumbuhan dari 7,4 persen menjadi 7,0 persen," tutur Suryamin. Terakhir yakni ekspor jasa terkontraksi karena melambatnya pertumbuhan jumlah wisman dan turunnya rata-rata pengeluaran wisman.


(ABD)