Australia Potong Bantuan untuk Indonesia

Fajar Nugraha    •    Selasa, 05 May 2015 17:50 WIB
indonesia-australia
Australia Potong Bantuan untuk Indonesia
Pemerintah PM Abbott potong bantuan untuk Indonesia (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Canberra: Australia akhirnya memotong bantuan untuk Indonesia. Tidak dijelaskan apakah pemotongan tersebut 'balas dendam' terhadap eksekusi mati dua WN Australia terpidana kasus narkoba. 
 
Pada 28 April 2015 lalu, dua gembong narkoba Bali Nine Andrew Chan dan Myuran Sukumaran dieksekusi mati oleh Pemerintah Indonesia. Segera setelah itu, pemerintahan Perdana Menteri Tony Abbott menyampaikan kekecewaannya.
 
Tidak hanya kecewa, Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop mengancam akan memberikan konsekuensi terkait eksekusi gembong narkoba ini. Konsekuensi ini sepertinya ingin ditunjukkan oleh Australia melalui bantuan mereka.
 
Pemotongan anggaran ini merupakan yang terbesar dalam sejarah Australia, dengan capaian hingga AUSD1 miliar. Untuk Indonesia saja, pemotongan anggaran mencapai AUSD605,3 juta pada 2014 lalu.
 
Ternyata imbas potongan ini tidak hanya dirasakan oleh Indonesia. Tetapi potongan bantuan dialami Botswana, Kenya, Zimbabwe, Angola dan Ethiopia. Kelima negara Afrika itu sebelumnya bergabung pada Maret lalu, meminta Australia untuk tidak memotong bantuannya.
 
Anggota Parleman Australia yang hadir dalam pertemuan itu mengkonfirmasi permintaan dari duta besar kelima negara itu. Mereka menilai negaranya masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Direktur Australian Council for International Development Marc Purcell mengatakan, pemerintah harus berpikir keras mengenai pemotongan bantuan khususnya untuk Indonesia.  Sementara di lain pihak, publik Australia menginginkan bantuan untuk Indonesia dipotong. Tetapi Australia harus mempertahankan hubungan diplomatik dengan Indonesia.

"Menlu Julie Bishop ditempatkan pada posisi yang sulit. Ada tekanan dari rakyat untuk memotong bantuan," ujar Purcell, seperti dikutip SMH, Selasa (5/5/2015).

"Jika salah langkah, hal ini bisa merusak hubungan diplomatik dengan Indonesia," tegasnya.

Peneliti Graduate Institute of International and Development Studies di Jenewa, Robin Davies mengatakan, sebesar apapun jumlah potongan untuk Indonesia, pemerintah akan tetap menemui kesulitan.

"Dari segi mana pun, pemotongan ini akan dianggap sebagai aksi balas dendam. Saya tidak yakin apakah pemerintah akan khawatir melihat hal ini dianggap sebagai balas dendam," jelasnya.

Sementara Direktur the Development Policy Centre at the Australian National University, Profesor Stephen Howes melihat hal ini sebagai potongan bantuan terbesar. Jelas sekali bantuan untuk Indonesia akan dipotong, meski belum diketahui besarannya.



(FJR)

Surat Suara Pilkada DKI Dicetak di Makassar

Surat Suara Pilkada DKI Dicetak di Makassar

45 minutes Ago

Sebuah perusahaan percetakan yang lokasinya jauh dari Jakarta menjadi pencetak surat suara Pilk…

BERITA LAINNYA