Mantan Walikota Makassar Bawa Puluhan Bukti dalam Lanjutan Sidang Praperadilan

Deny Irwanto    •    Rabu, 06 May 2015 10:02 WIB
praperadilan
Mantan Walikota Makassar Bawa Puluhan Bukti dalam Lanjutan Sidang Praperadilan
Ilham Arief memberikan kesaksian di sidang kasus dugaan suap kuota impor daging sapi di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis 19 September 2013. Foto: MI/Mohammad Irfan

Metrotvnews.com, Jakarta: Sidang lanjutan praperadilan Mantan Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin di kembali digelar hari ini. Arief akan membawa puluhan bukti tertulis dalam sidang lanjutan praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

"Bukti ada 23 surat yang kita bawa, surat pemanggilan klien kami, dan surat-surat keterangan lainnya," ujar salah satu pengacara llham, Deny Hariyatna kepada Metrotvnews.com, Rabu (6/5/2015).

Persidangan ini dijadwalkan berlangsung pada pukul 09.30 WIB. Selain pilihan pemohon yang akan membawa bukti tertulis, KPK sebagai termohon juga akan menyerahkan bukti tertulis.

Salah satu anggota biro hukum KPK, Rasamala Aritonang, mengatakan pihak KPK telah menyiapkan bukti-bukti yang akan diajukan dalam persidangan. "Nanti kita siapkan dokumen yang relevan untuk membuktikan. Habis penyerahan bukti tertulis dari pemohon dan termohon, dilanjutkan mendengarkan keterangan saksi dari pihak pemohon," tandasnya kemarin usai persidangan.

Arief ditetapkan tersangka dalam kasus dugaan korupsi terkait kerja sama kelola dan transfer instalansi perusahaan daerah air minum (PDAM) di Makassar tahun 2006-2012.

Arief diduga melakukan perbuatan melawan hukum atau penyalahgunaan wewenang secara bersama-sama yang mengakibatkan kerugian negara. KPK menetapkan Arief sebagai tersangka pada Rabu 7 Mei 2014.

Upaya hukum praperadilan diambil karena proses hukum terhadap Arief tidak kunjung dilanjutkan. Dengan menyandang status tersangka selama hampir setahun sangat merugikan. Tim Kuasa hukum Arief menduga penyidik KPK tidak memiliki alat bukti yang cukup kuat untuk melanjutkan perkara Arief. Hal itu dirasakan kuasa hukum sejak adanya penyitaan barang bukti.


(YDH)