Strategis Gerakkan Ekonomi, BKPM Dorong Investasi Padat Karya

Husen Miftahudin    •    Rabu, 06 May 2015 11:17 WIB
investasi
Strategis Gerakkan Ekonomi, BKPM Dorong Investasi Padat Karya
Kepala BKPM Franky Sibarani. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/

Metrotvnews.com, Jakarta: Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani optimistis pemberian insentif tax allowance dapat meningkatkan kegairahan investasi masuk ke Indonesia. Hal ini karena tren kenaikan realisasi investasi pada triwulan pertama tahun ini dan adanya kepastian mekanisme prosedur untuk memperoleh tax allowance bagi para investor.

Meskipun demikian, ungkap dia, peningkatan investasi tak mendorong pengurangan pengangguran di Indonesia. Investasi yang masuk ke dalam negeri lebih banyak di luar sektor industri nonpadat karya. Padahal, jika itu digenjot, maka pengangguran Indonesia akan berkurang secara drastis.

"Industri padat karya cukup strategis dalam mendorong pergerakan ekonomi Indonesia yang saat ini mengalami perlambatan, melalui potensi penyerapan tenaga kerja dan peningkatan ekspor," kata Franky, dalam Dialog Investasi Efektifitas Kebijakan Insentif dalam Mendorong Pertumbuhan Investasi, di kantor BKPM, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (6/5/2015).

Menurut data BKPM, dalam realisasi triwulan I-2015 mencapai 315.229 orang, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 260.156 orang. Namun sayangnya, pengangguran Indonesia menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) bertambah sebanyak 300 ribu orang.

"Oleh karena itu BKPM akan mengambil porsi upaya peningkatan investasi sektor padat karya melalui perumusan kebijakan insentif yang memang dibutuhkan sektor industri tersebut," papar Franky.

Data BKPM menambahkan, realisasi investasi triwulan I-2015 sebesar Rp124,6 triliun atau naik sebesar 16,9 persen bila dibandingkan dengan capaian periode yang sama pada 2014 lalu yang sebesar Rp106,6 triliun. Menurut Franky, catatan tersebut karena masih tumbuhnya investasi di sektor industri pengolahan (manufaktur), baik Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dibandingkan periode sebelumnya.

Ia menjabarkan, realisasi investasi industri pengolahan pada periode Januari-Maret 2015 sebesar USD2,9 miliar atau sekitar Rp17,5 triliun untuk PMDN. "Industri pengolahan ini cukup strategis karena memberikan nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja, sehingga dapat menggerakkan perekonomian," pungkas Franky.


(AHL)