Indef: Kinerja Menteri Ekonomi Buat Perekonomian Jeblok

Husen Miftahudin    •    Rabu, 06 May 2015 12:51 WIB
pertumbuhan ekonomi
Indef: Kinerja Menteri Ekonomi Buat Perekonomian Jeblok
Enny Sri Hartati (Foto: Husen Miftahudin)

Metrotvnews.com, Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) didesak untuk me-reshuffle para menterinya yang tak cakap menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Terutama menteri di bidang ekonomi yang tak mampu buat perekonomian Indonesia tumbuh seperti yang ditargetkan.

Pengamat dari Institute for Development of Economics and Finances (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, sebenarnya tim ekonomi kabinet kerja telah mengetahui akan terjadi perlambatan serapan belanja pemerintah karena ada pelemahan ekonomi dunia. Seharusnya, sebut dia, pemerintah perlu mengelola perekonomian secara sungguh-sungguh untuk memacu pertumbuhan ekonomi. 

"Tapi kebijakan tim ekonomi justru menyebabkan daya beli masyarakat jatuh, dengan kalkulasi yang tidak prudent," ujar Enny, dalam Dialog Investasi Efektifitas Kebijakan Insentif dalam Mendorong Pertumbuhan Investasi, di kantor BKPM, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (6/5/2015).

Sebagai contoh, kata dia, ‎demi berambisi mendapatkan ruang fiskal lebih besar, pemerintah terus mengambil kebijakan penyesuaian harga. Di antaranya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), tarif dasar listrik (TDL) naik selama tiga tahun berturut-turut termasuk untuk golongan industri yang sangat tinggi. 

"Dengan kondisi ini, wajar saja bila kinerja perusahaan tekstil dan lainnya yang sangat bergantung dengan listrik langsung mencatatkan kinerja buruk. Harusnya pemerintah menyetel keseimbangan, memikirkan setiap kebijakan ekonomi supaya punya desain komprehensif. Jangan ambisi saja dapatkan ruang fiskal," ungkap Enny.

Namun demikian, dia enggan menyebut nama-nama menteri ekonomi yang seharusnya masuk dalam daftar nama yang akan di-reshuffle. "Soal itu kan urusan Pak Jokowi," pungkas Enny.

Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2015 melorot ke angka 4,71 persen. Padahal pada kuartal IV-2014, pertumbuhan ekonomi mencapai angka 5,02 persen. Hal ini tentu menyulitkan pemerintah Indonesia untuk merealisasikan target pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 5,7 persen.


(ABD)