Industri Rokok Bisa Mati Gara-Gara Ini

Ade Hapsari Lestarini    •    Rabu, 06 May 2015 18:41 WIB
rokok
Industri Rokok Bisa Mati Gara-Gara Ini
Ilustrasi rokok bergambar. ANTARA FOTO/Suryanto

Metrotvnews.com, Jakarta: Peneliti tembakau Puthut EA mengkritik gambar peringatan kesehatan atau pictorial health warning (PHW) pada bungkus rokok yang tak konsisten.

Puthut menjelaskan bahwa jika diteliti dari metode dan strategi antirokok, tujuannya bisa mematikan industri rokok dalam hal ini industri kretek nasional. Gambar di bungkus rokok yang terus diubah dan diutak-atik dinilainya tidak memiliki kepastian dan ditakuti berujung pada pelarangan penjualan rokok secara massal.

"Kok terus mau diubah lagi. Nanti gagal lagi, diubah lagi. Jadi apa maunya. Jangan-jangan nanti orang tidak boleh jualan rokok atau rokok hanya boleh dijual di supermarket atau tempat-tempat hiburan seperti halnya minuman bir. Sekalian saja dilakukan kampanye tutup pabrik rokok," tegas Puthut, seperti dikutip dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (6/5/2015).

Ia bahkan mengandaikan jika kalangan antirokok memiliki kekuatan politik untuk mematikan industri tembakau, pasti sudah dilakukan. Sebab, ranah untuk mematikan industri rokok terbagi tiga yakni melalui harga rokok yang mahal, lewat kawasan tanpa rokok, dan terakhir lewat total banned iklan.

"Kampanye antirokok secara massif dengan iklan di mana-mana. Sangat tidak mungkin jika tidak ada motif ekonomi tertentu apalagi dengan dukungan finansial yang besar. Kalau tidak ada dukungan finansial yang besar, apakah ada kampanye semasif itu," ucap dia.

Ia mengingatkan, saat ini, terdapat perang besar antara industri farmasi dan industri rokok. Dia menilai industri farmasi sebagai dewa kesehatan dan menyerang industri rokok sebagai setan kesehatan. "Padahal, dalam banyak hal, industri farmasi tak kalah jahat. Lihat saja praktik-praktik pemberian obat-obatan di rumah sakit dan di apotek-apotek," tegasnya.

Kedua, karena di negara Eropa dan Amerika, pasar rokok sudah sampai pada titik maksimal. Sehingga mereka harus masuk ke pasar Indonesia dan bahkan berusaha mengakuisi perusahaan-perusahaan rokok di Indonesia.

Tetapi karena elemen penting rokok adalah tembakau yang diproduksi di Indonesia, mereka menyerang rokok kretek sebagai rokok khas Indonesia, sebab jika berhasil, maka tembakau yang dipakai kelak akan didatangkan (impor) dari negara lain.

Puthut mengingatkan, total dari hulu sampai hilir, industri rokok melibatkan kurang-lebih: 30.500.000 orang. Dari hulu ke hilir, industri rokok memberi nilai tambah tinggi serta dinikmati oleh masyarakat dan negara, bandingkan dengan industri lain seperti: barang tambang, CPO, karet, dan kakao.

"Bahan-bahan itu diekspor sebagai bahan mentah, dan nilai tambahnya dinikmati oleh negara-negara pengimpor," pungkasnya.


(AHL)

Jakarta Kembali ke Titik Nol

Jakarta Kembali ke Titik Nol

5 hours Ago

Di Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara, bangunan liar permanen dan semipermanen kembal…

BERITA LAINNYA