Menperin Jadikan Pameran Media Branding Produk Industri Kulit

Husen Miftahudin    •    Kamis, 07 May 2015 19:06 WIB
kementerian perindustrian
Menperin Jadikan Pameran Media <i>Branding</i> Produk Industri Kulit
Menteri Perindustrian Saleh Husin mencoba sepatu buatan dalam negeri di Pameran Indo Leather & Footwear 2015 (Foto: Metrotvnews.com/Husen Miftahudin)

Metrotvnews.com, Jakarta: Produk-produk industri kulit nasional perlu peningkatan merek agar dapat mengangkat branding produk kulit lokal. Hal ini karena produk-produk kulit dalam negeri melempem ketika masuk pasar global karena tak memiliki daya cengkram pada desain dan branding.

Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin mengatakan, peningkatan merek atau branding merupakan salah satu faktor dalam mengangkat dan memperluas akses pasar untuk produk-produk kulit dalam negeri. Tak ayal, jika hal itu terjadi maka pendapatan devisa negara bakal meningkat tajam karena secara kualitas, produk industri kulit Indonesia laku di pasar internasional.

"Mutu produk kulit dalam negeri saat ini telah cukup baik dan sudah diekspor ke mancanegara. Namun di sisi lain masih sangat sedikit produk yang memiliki branding dan di kenal di mancanegara. Justru hasil produksi dalam negeri pada umumnya digunakan oleh pengusaha luar negeri yang memiliki branding," ujar Saleh, saat membuka Pameran Indo Leather & Footwear 2015, di Kemayoran melalui keterangan tertulis, Jakarta, Kamis (7/5/2015).

Ia melanjutkan, pihaknya menaruh perhatian besar pada industri kulit dalam negeri agar mutu dan kualitasnya dapat ditingkatkan. Diharapkan, kualitas produk industri kulit konsisten sehingga pemerintah dapat membantu branding ke negara-negara lain. Salah satu cara branding, sebut dia, adalah dengan mengadakan pameran produk dan kerajinan kulit.

"Tujuan dari pameran ini adalah agar produk dalam negeri dapat dikenal dan dapat berdaya saing di pasar global. Jika begitu, maka perdagangan bebas dunia atau Free Trade Agreement (FTA) bukanlah suatu hambatan dalam pemasaran produk dalam negeri," papar Saleh.

Selain itu, tambah dia, pameran juga dapat meningkatkan perdagangan di bidang industri kulit serta alas kaki. "Pameran ini diharapkan mampu meningkatkan pasar ekspor melalui kerjasama dengan negara-negara produsen dan perdagangan utama sepatu dan kulit serta asosiasi persepatuan dunia seperti Asia Pacific Shoes Industry, Taiwan Technology Machinery and Hardware dan Italia Trade Commission," pungkas Saleh.

Sebagai informasi, peran industri nonmigas terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional pada 2014 adalah sebesar 17,87 persen dimana 0,27 persen di antaranya berasal dari kontribusi pertumbuhan industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki. Industri alas kaki nasional saat ini berjumlah 394 perusahaan dengan investasi mencapai Rp11,3 triliun pada 2014 dan menyerap tenaga kerja sekitar 643 ribu orang. 

Ekspor industri Alas Kaki terus mengalami peningkatan, di mana pada 2014 nilai ekspor produksi alas kaki nasional mencapai USD4,11 miliar atau naik sebesar 6,44 persen dari tahun sebelumnya sebesar USD3,86 miliar.

Tujuan ekspor utama produk alas kaki Indonesia adalah Amerika Serikat, Belgia, Jerman, Inggris, dan Jepang. Industri alas kaki merupakan salah satu industri yang terus meningkat nilai perdagangannya dengan rata-rata nilai surplus dalam lima tahun terakhir mencapai USD2,84 miliar. 



(ABD)