Pasar Eropa Melemah, Pendapatan Ekspor Berpotensi Hilang USD2,4 Miliar

Dero Iqbal Mahendra    •    Jumat, 08 May 2015 10:56 WIB
ekspor
Pasar Eropa Melemah, Pendapatan Ekspor Berpotensi Hilang USD2,4 Miliar
Ilustrasi. Antara/M Agung Rajasa

Metrotvnews.com, Jakarta: Hasil studi yang dilakukan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mengenai EU-Indonesia Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) menunjukkan Indonesia berpotensi kehilangan pendapatan ekspor hingga USD2,4 miliar per tahunnya dari menurunnya ekspor di pasaran Eropa.

Kepala Departemen Ekonomi CSIS, Yose Rizal Damuri mengatakan, kembali dibukanya wacana untuk memulai kembali perundingan CEPA yang akan dilaksanakan tahun ini menjadi sebuah harapan untuk babak baru dari perundingan tersebut. Terutama dengan beberapa negara ASEAN lainnya yang juga agresif dalam melakukan perjanjian serupa untuk menghadapi pasar global kedepannya.

"Uni Eropa memiliki tarif yang diberikan kepada negara-negara yang dianggap masih kurang mampu atau yang lebih rendah yakni GSP yang mana Indonesia mendapatkan untuk sekarang ini. Hampir 50 persen produk Indonesia yang di ekspor ke uni eropa mendapatkan fasilitas ini, tetapi bila Indonesia makin maju dalam 3 hingga 4 tahun lagi maka fasilitas tersebut bisa dicabut seperti Thailand dan berlaku tarif MFN (Most Favoured Nations) yang jauh lebih tinggi," ujar Yose di Jakarta, seperti dikutip Jumat (8/5/2015).

Bila hal tersebut terjadi Yose memperkirakan akan banyak produk ekspor asal Indonesia yang akan kalah bersaing di pasaran Uni Eropa akibat persoalan tarif tersebut. Produk yang akan terkena dampaknya seperti produk garmen, chemical, dan banyak produk lainnya. Untuk itu Yose memandang bahwa CEPA dapat menjadi perjanjian alternatif bila nantinya fasilitas GSP tersebut di cabut dan tidak menutup kemungkinan akan mendapatkan tarif yang lebih rendah dari fasilitas GSP.

Tidak sampai disitu saja, bila negara-negara ASEAN lainnya dapat memperoleh kerja sama serupa dengan Uni Eropa maka nilai ekspor Indonesia ke negara ASEAN juga akan terpengaruh, yakni sebesar 8 persen atau setara dengan USD1,6 miliar dari produk industri mesin dan alat listrik yang akan terpukul paling keras sebab negara ASEAN lainnya juga termasuk pemasok penting untuk Uni Eropa. Untuk Industri makanan sendiri akan mengalami penurunan hingga 90 persen dari ekspornya saat ini.

"Kalau perjanjian ini sudah dimulai kita harapkan dalam 2 hingga 3 tahun sudah dapat selesai perjanjian ini. Ada berbagai macam isu yang menjadikan pembahasan perjanjian ini terhenti seperti persoalan HAKI, standardisasi produk yang masuk kedalam kategori non tarif yang menjadi permasalahan dalam negosiasi," tutur Yose.

Untuk perjanjian kedepannya Yose menghimbau kedua belah pihak harus memulai dengan paradigma yang baru dan tidak bisa lagi saling berkeras diri sehingga harus fleksibel. Hal yang terpenting adalah tercapai dahulu kesepakatan pertamanya namun dengan tetap memegang komitment untuk lebih baik lagi kedepannya.

Bila nantinya CEPA tersebut dapat menghapuskan tarif untuk semua barang, maka kuantitas tahunan yang akan di impor oleh uni eropa akan meningkat hingga 5,4 persen dari nilai saat ini atau setara dengan USD1,1 miliar. Meski begitu tentunya produk produk Indonesia harus terlebih dahulu dapat menyamakan kualitas produknya dengan standar Uni Eropa.

"Bila kita compile ke Uni Eropa dan barang kita bisa masuk ke Eropa maka barang kita juga bisa masuk ke tempat lainnya. CEPA dapat membantu dalam hal meminta asistensi untuk meningkatkan kualitas produk untuk memenuhi standar dari Eropa," pungkas Yose.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional (KPI) Kementerian Perdagangan, Bachrul Chairi mengungkapkan bahwa negara ASEAN lainnya juga sedang melakukan promosi secara agresif untuk membuka pasarnya melalui perundingan-perundingan. Pada saat yang sama Indonesia juga tidak boleh hanya terpaku menjual barang mentah tetapi harus memberikan nilai tambah sebanyak mungkin untuk produk yang akan di ekspor.

Dia mengungkapkan, untuk perundingan kedepannya pihaknya akan menerapkan strategi baru dan pendekatan yang baru guna dapat memuluskan perjanjian CEPA ini.

"Intinya dalam format baru nanti kita melihat sektor sektor yang memang kita butuh untuk meningkatkan daya saing kita. Nanti tanggal 15 Juli nanti sudah akan kita mulai pembicaraannya dengan Uni Eropa," pungkas Bachrul.


(WID)

Warga Jatinegara Beri Sumbangan Dana Kampanye untuk Agus

Warga Jatinegara Beri Sumbangan Dana Kampanye untuk Agus

14 hours Ago

Calon Gubernur DKI Jakarta Agus Yudhoyono mendapatkan sumbangan dari warga saat berkampanye di …

BERITA LAINNYA