Kurang dari 2 Juta, JK: Impor Beras Dipertimbangkan

Dheri Agriesta    •    Jumat, 08 May 2015 18:17 WIB
impor
Kurang dari 2 Juta, JK: Impor Beras Dipertimbangkan
Wakil Presiden Jusuf Kalla ( ANTARA FOTO/HO/Humas UMY Hamim Thohari)

Metrotvnews.com, Jakarta: Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyebut bahwa kebijakan impor selalu terbuka sejak dulu jika produksi lokal tak bisa mencukupi cadangan nasional. Bahkan, impor akan dipertimbangkan bila cadangan beras di Bulog kurang dari dua juta ton.

Keputusan impor beras masih dibicarakan hingga saat ini. JK menyebut laporan hasil panen dari sisi pertanian yang diterima cukup baik. Namun, pemerintah masih akan melihat persediaan yang berhasil diserap Bulog setelah panen raya berakhir.

"Lihat setelah akhir Mei. Panen raya inikan sampai Mei. Lihat hasilnya bagaimana. Baru dipertimbangkan kalau memang cadangan nasional di bawah dua juta ton, akan dipertimbangkan (impor)," kata JK, di Istana Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (8/5/2015).

JK mengungkapkan, bila cadangan nasional tak berhasil dipenuhi maka kemungkinan untuk impor beras sangat terbuka. Karena itu, lanjut JK, pemerintah akan berupaya untuk memenuhi cadangan nasional untuk menghadapi bulan Ramadan.

Selain itu, jika Bulog mencoba untuk membeli beras di dalam negeri harga yang dipatok pedagang pun akan sangat tinggi. Harga tinggi ini bisa menyebabkan harga jual melambung naik. "Karena kalau Bulog beli dalam negeri terlalu banyak, maka harga bisa naik," kata JK.

Menteri Perdagangan Rahmat Gobel ingin menghitung persediaan beras yang di pasaran. Impor merupakan alternatif terakhir. "Saya kira, impor itu jalan terakhir. Alternatif terakhir adalah impor. Saat ini kita masih menghitung stok yang ada di pasar. Saya menunggu dari mentan (menteri pertanian)," kata Gobel, di Istana Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Gobel masih menunggu laporan dari Menteri Pertanian Amran Sulaiman terkait persedian beras di pasar. Demikian juga dengan laporan dari Bulog terkait serapan beras. Serapan dari Bulog, kata Gobel, memang sedikit kurang dari petani yang dimiliki oleh petani. Beras itu, kata dia, telah lebih dahulu dibeli pedagang.

"Tetapi yang saya tahu memang ini cukup kurang. Udah lebih banyak dibeli oleh pedagang," pungkas Gobel.


(ABD)