Tim Reformasi Sebut Ada Kerugian di Pengadaan Tender Migas

Ade Hapsari Lestarini    •    Sabtu, 09 May 2015 09:59 WIB
pertamina
Tim Reformasi Sebut Ada Kerugian di Pengadaan Tender Migas
Ilustrasi -- FOTO: Antara/Rekotomo

Metrotvnews.com, Jakarta: Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) mengungkapkan ada beberapa faktor yang menyebabkan PT Pertamina (Persero) merugi dalam hal pengadaan dan tender.

"Pertamina dalam pengadaan LPG atau BBM selalu merugi karena beberapa kemungkinan. Pertama, ada trader perantara yang selalu dimenangkan dan diduga mafia migas," ujar anggota tim RTKM Fahmi Rahdi di Jakarta, Sabtu (8/5/2015).

Seperti diketahui, pada 23 Februari 2015, unit usaha Pertamina yakni Integrated Supply Chain (ISC) mengundang tender LPG yang terdiri atas Butane dan Propane untuk loading April 2015 dengan spot total 44.000 mt. ISC-Pertamina pun menunjuk Total sebagai pemenang tender yang melakukan pricing untuk Maret yang seharusnya dilakukan April 2015. Menurut Fahmi, Pertamina dinilainya kerap merugi akibat adanya kesalahan dalam inventory manajemen.

"Tidak bisa memperkirakan harga. Selalu beralasan beli di harga tinggi lalu menjual dengan harga rendah. Nah kerugian tadi itu akibat manajemen Pertamina sendiri," ujar dia.

Dirinya pun mendorong penegak hukum untuk segera mengusut adanya dugaan tindak pidana korupsi yang merugikan negara itu. "Saya kira BPK atau KPK harus masuk melakukan audit investigasi. Apakah ini kesalahan manajemen atau apa. KPK harus masuk, atau Bareskrim Polri untuk melakukan penyidikan," ujarnya.

Pada kesempatan terpisah, guru besar hukum bisnis dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Prof Ridwan Khairandy mengatakan, seharusnya penegak hukum yakni Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atau Bareskrim Polri turun tangan. Ridwa memaparkan, ISC secara jelas mengadakan tender pada April, namun malah merestui Total yang mengajukan pada Maret. "Itu seharusnya dibatalkan, kan ada surat perjanjian," kata dia.

Vice President Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina Daniel Purba sempat mengatakan sejak ISC ditugaskan dalam pengadaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan minyak mentah, maka telah dilakukan tender secara ketat sebagai upaya meminimalisir kecurangan-kecurangan yang terjadi.

"Mulai 1 Januari 2015, ISC berinteraksi dengan supplier dan buyer dalam mekanisme ekspor impor, kalau tender kita buka dengan siapa pun ISC telah melakukan tender selama 40 kali," jelas Daniel, di Kantor Pusat Pertamina, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Kamis 7 Mei 2015.

Daniel menjelaskan, sistem tender yang dilakukan dalam pengadaan BBM ISC dengan melalui email, tenderlist mengirimkan email terlebih dulu ke ISC, kemudian ISC akan konfirmasi tenderlist sesuai dengan kriteria.

"Kriterianya, profil perusahaan tersebut mencakup seberapa besar, pendaftar di mana, kontak detail. Kemudian legal compliance, apakah terdaftar, owner siapa, direksi siapa dan dokumen-dokumen pendukung, statement bebas dari hukum. Lalu, bussiness detail. Prinsip kemampuan finansial, apakah ada verifikasi, laporan keuangan tiga tahun terakhir. Dan update perbankan," jelas Daniel.


(AHL)