Keraton Yogyakarta Memasuki Era Baru

Patricia Vicka    •    Sabtu, 09 May 2015 12:49 WIB
keraton yogyakarta
Keraton Yogyakarta Memasuki Era Baru
Foto: Sri Sultan Hamengkubuwono X menjelaskan isi Sabda Tama di Keraton Yogyakarta, Jumat (8/5/2015)/MTVN_Patricia Vicka

Metrotvnews.com, DI Yogyakarta: Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Keraton Yogyakarta memasuki era baru. Era dimana berakhirnya era Mataram lama dan era Mataram baru. Dua Sabda Raja menjadi tanda selesainya era Mataram lama dan Mataram Baru.

Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X mengatakan berakhirnya era Mataram lama dan Mataram baru didasarkan pada rampungnya perjanjian antara  Ki Ageng Pamenahan dengan Ki Ageng Giring. Perjanjian tersebut adalah pemisah antara Mataram lama dengan Mataram baru.

"Dasare perjanjian Ki Ageng Giring sampun rampung mboten saged dipun ewahi (perjanjian antara Ki Ageng Giring sudah selesai, tidak diubah tapi sudah rampung)," kata Sri Sultan Hamengkubuwono X usai menjelaskan isi Sabda Raja di Keraton Yogyakarta, Jumat (8/5/2015).

Ia menjelaskan era Mataram lama dimulai dari zaman Ken Arok dari Kerajaan Singosari hingga Kerajaan Pajang. Sedangkan Mataram baru dimulai setelah perjanjian antara dua pendiri kerajaan Yogyakarta, Ki Ageng Pamenahan dan Ki Ageng Giring dikeluarkan.

"Sekarang sudah menyatu (kedua era tersebut). Dasar penyatuannya adalah berdasarkan keturunannya (keturunan kedua Ki Ageng) yang berurutan sudah tak terpisahkan kembali dan berakhirnya perjanjian antara Ki Ageng Pamanahan dengan Ki Ageng Giring," paparnya.

Metrotvnews.com mencoba memaparkan isi perjanjian antara Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pamanahan berdasarkan buku 'Babad Tanah Jawi' terjemahan bebas oleh Sudibjo ZH. Buku itu diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah pada 1980.

Secara garis besar perjanjian antara Ki Ageng Pamanahan dan Ki Ageng Giring berisi tentang cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram dan Kerajaan Yogyakarta.

Alkisah, Ki Ageng Giring yang dikenal tekun bertapa. Dia mendapat bisikan ketika sedang memasang tabung di dekat sebuah pohon kelapa. "Ki Ageng Giring, ketahuilah, siapa yang minum air degan ini habis seketika, kelak seanak turunnya akan menjadi Raja Agung di tanah Jawa," tutur bisikan itu.

Ki Ageng Giring yang mendengar suara itu segera turun dari tempat penyadapan. Kemudian cepat-cepat memanjat pohon tadi. Maka telah dipetiklah kelapa muda itu, dibawa turun dan diletakkan di dapur rumahnya. Kemudian ia keluar rumah kembali.

Pada hari yang bersamaan, teman dekat yang sudah dianggap saudaranya, Ki Ageng Pamanahan datang bertamu ke rumah Ki Ageng Giring. Pada saat tiba di rumah, Ki Ageng Giring tidak berada di rumah. Ki Ageng Pamanahan yang merasa kehausan segera meminum air kelapa muda milik Ki Ageng Giring sampai habis.

Tak beberapa lama kemudian, Ki Ageng Giring tiba dirumah dan menemukan kelapa Muda tersebut telah kosong dan hancurlah hatinya begitu tahu peminumnya adalah sahabatnya sendiri, Ki Ageng Pamanahan.

Ki Ageng Giring segera memberitahu isi bisikan gaibnya tersebut dan meminta pada Ki Ageng Pamanahan untuk berbagi kekuasaan kerajaan Mataram dengan keturunannya.

"Adi, permintaan saya begini saja karena air degan sudah anda minum, bagaimana saya dapat minta kembali? Sudahlah kelak keturunan saya saja bergantian dengan keturunan anda: turun anda sekali, kemudian bergantian turun saya." tutur Ki Ageng Giring.

Namun, Ki Ageng Pamanahan menolaknya. Ki Ageng Giring tak patah semangat dang mengajukannya sampai turunan keenam dan tetap ditolak. Hingga akhirnya dari hasil musyawarah dieproleh kesepakatan bahwa turunan ke tujuh Ki Ageng Giring akan diberi kesempatan menjadi raja tanah Jawa.


(TTD)