Jejak Pelarian Sembilan Tahanan Kabur BNN

Rita Ayuningtyas    •    Sabtu, 09 May 2015 12:53 WIB
narkoba
Jejak Pelarian Sembilan Tahanan Kabur BNN
Kepala Bagian Humas Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisars Besar Slamet Pribadi, menunjukan foto dan identias tahanan yang kabur dari rutan BNN di Gedung BNN, Foto: MI/Angga Yuniar

Metrotvnews.com, Jakarta: Sembilan dari 10 tahanan Badan Narkotika Nasional yang melarikan diri, berhasil ditangkap di sejumlah lokasi berbeda. Usai kabur dari tahanan BNN, mereka ternyata menuju Tanjung Priok, Cilincing, Jakarta Utara.

"Mereka nyebar dari Cilincing, ada yang ke Puncak hingga Malaysia," ujar Kepala Humas BNN Kombes Pol Slamet Pribadi kepada Metrotvnews.com, Sabtu (9/5/2015).

Sembilan tersangka itu adalah Hasan Basri, Samsul Bahri, Apip Apriansah, Husen, Harry Radiawan, Franky, Erik, Hamdani dan Abdullah.

Saat berpisah di Tanjung Priok, Hasan Basri dan Samsul Bahri bergerak ke arah Jombang dan dijemput oleh Yusuf, 53, Kamis (2/4/2015) malam. Setelah itu, keduanya bersama Yusuf menuju ke Yogyakarta. Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke Madiun. Namun, kembali ke Yogyakarta untuk bertemu Taufik, 39.

Mereka menyewa sebuah mobil untuk melanjutkan perjalanan ke Cilacap, Jawa Tengah. Setibanya di Cilacap, tim BNN bersama dengan Polres Cilacap melakukan penangkapan sekitar pukul 11.00 WIB ketika mereka sedang tertidur di sebuah rumah.

Sementara Apip Apriansah, dari Tanjung Priok, melanjutkan perlariannya ke Ancol bersama Abdullah. Kemudian, keduanya bergerak ke arah Warakas dan akhirnya berpisah di sana. Apip melanjutkan pelariannya ke arah Depok. Pria yang tertangkap dengan barang bukti sabu sebanyak 25,225 kg di Karawang (19/3/2015)itu meminta nomor penyidik kepada istrinya.

Setelah itu, Apip menghubungi penyidik dan menyerahkan diri pada Kamis (2/4/2015) sekitar pukul 01.00 WIB di Hotel Cempaka D’ACICI daerah Plumpang, Jakarta Utara.

Tersangka Husen yang juga merupakan tahanan kasus sama dengan Apip, memilih lari bersama Hasan Basri dan Samsul Bahri ke Jombang dengan menyewa sebuah mobil. Sekitar pukul 04.00 WIB, Rabu (1/4/2015), ketiganya tiba di Jombang, Jawa Timur. Keesokan harinya, Hasan Basri dan Samsul Bahri kedatangan seorang tamu dengan inisial M.

Setelah menyerahkan uang sewa mobil sebesar Rp2 juta kepada Husen, sekitar pukul 21.00 WIB, Hasan Basri, Samsul Bahri, dan M, pergi. Husen yang berada di Dusun Sumberejo, Desa Glagahan, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang tersebut akhirnya berhasil ditangkap pada Sabtu (4/4/2015) sekitar pukul 14.00 WIB.

Istri Husein bernama Farida, 32, dan adik ipar Husein ditangkap karena ikut membantu upaya pelarian pria tersebut.

Tersangka Harry Radiawan alias Pakde kembali tertangkap ketika sedang berada di sebuah kosan di Bekasi untuk menunggu rekannya karena ingin meminjam uang. Namun, belum sempat rekannya datang, Pakde sudah ditangkap oleh petugas, Selasa (21/4/2015).

Sedangkan, Franky dan Erik melarikan diri ke daerah Puncak bersama dengan tiga tahanan lainnya yaitu Harry, Hamdani, dan Usman. Selang beberapa hari, keduanya berpisah dan bergeser ke daerah Pemalang. Mereka mengontrak di sebuah rumah warga di Pemalang. Pada 16 April, keduanya berhasil diamankan petugas BNN. Sementara, Usman belum tertangkap.

Tersangka Hamdani dan Abdullah merupakan tersangka kasus yang sama dengan Hasan Basri dan Samsul Bahri. Keempatnya merupakan sindikat Aceh yang berhasil ditangkap oleh petugas BNN dengan barang bukti sabu-sabu 77,3 kilogram. Keduanya berhasil kembali ditangkap dari pelariannya di Rawang, Malaysia. Keduanya  ditangkap pukul 23.50 waktu setempat, Kamis (30/4/2015). Penangkapan kedua tersangka ini merupakan kerja sama antara tim SB Malaysia dan intelijen BNN.

"Atas tertangkapnya kembali para tersangka yang melarikan diri, BNN mengucapkan terima kasih kepada masyarakat luas yang telah memberikan informasi, kepada special branch Malaysia, perwakilan Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia, dan anggota Polri serta Polsek terkait yang telah membantu atas tertangkapnya kembali para tersangka," kata Slamet.

Sepuluh tahanan ini kabur dari rumah tahanan BNN pada Selasa 31 Maret lalu. Lima tahanan yang kabur di antaranya merupakan jaringan Aceh dalam kasus peredaran narkoba jenis sabu sejumlah 77,3 kilogram. Lima lainnya adalah sindikat narkoba Tanah Abang-Karawang.


Foto: Istimewa


Foto: Istimewa


(BOB)