Nawa Cita Jokowi untuk Perubahan Iklim Dipertanyakan

Lukman Diah Sari    •    Minggu, 10 May 2015 13:41 WIB
Nawa Cita Jokowi untuk Perubahan Iklim Dipertanyakan
Perkebunan sawit dan lahan gambut yang habis terbakar di Pelintung, Bengkalis, Riau. (Foto: MI--Ramdani)

Metrotvnews com, Jakarta: Jelang perjanjian iklim internasional COP21 yang akan diselenggarakan di Paris, Perancis pada Desember 2015 mendatang, komitmen Presiden Joko Widodo untuk penyelamatan iklim dipertanyakan.

Disebut-sebut pelaksanaan COP 21 akan menjadi tolok ukur presiden dalam mengurangi emisi karbon di Indonesia. Menurut Direktur Eksekutif Sawit Watch Jefri Saragih, upaya pemerintah belum tampak dalam mencapai keadilan iklim.

Communication Officer Sawit Watch Ratri Kusumohartono, dalam diskusi 'Mempertanyakan Komitmen Pemerintahan Joko Widodo untuk Mencapai Keadilan Iklim' di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, mestinya, "Presiden Jokowi mengerem ambisi ke mitigasi, karena arahnya itu ke karbon market dan tidak memenuhi kebutuhan masyarakat luas," jelasnya, Minggu (10/5/2015).

Dia menegaskan, pemerintah Indonesia harus berhenti untuk terus disetir oleh negara-negara industri yang hanya ingin mengeruk keuntungan. Meskipun selama pembangunan kebun kelapa sawit kerjasama antara petani dan stake holder terlihat, faktanya petani selalu dirugikan.

Menurut Ratri, pemerintah sudah seharusnya memiliki sikap dan membangun road map  menjelang COP21 di Paris agar mampu menguatkan posisi tawar. Dalam Nawa Cita pun harapan adanya iklim berkeadilan tak nampak.

"Kebijakan yang dibangun berbeda, subsidi untuk petani juga tak cukup membangun. Pengawasan publik pun jarang dilibatkan," bebernya.

Sementara menurut Wetlands International Indonesia Iwan Tricahyo Wibisono, keberadaan perkebunan sawit skala besar menghasilkan dampak negatif khususnya yang berada di lahan gambut. Lahan gambut kering akan membuat tanaman mudah terbakar dan bisa membuat tanah jenuh. Sedangkan, fungsi dari lahan gambut adalah untuk drainase.

"Keberadaan kanal-kanal di lahan gambut berfungsi sebagai saluran drainase, yang menyebabkan terkurasnya air gambut kemudian kering dan terbakar dan mengalami subsiden. Kondisi itu sudah banyak terjadi di Riau," ungkapnya. 

Diketahui, untuk per hektare lahan gambut yang ditanami kelapa sawit memunculkan emisi 9,1 ton karbon dioksida pertahun. Jika setiap tahunnya ada 11,5 juta hektare lahan kelapa sawit, hal itu akan menyumbang emisi sekitar 732 ton dan berdampak negatif pada lingkungan.
(MEL)

Warga Jatinegara Beri Sumbangan Dana Kampanye untuk Agus

Warga Jatinegara Beri Sumbangan Dana Kampanye untuk Agus

12 hours Ago

Calon Gubernur DKI Jakarta Agus Yudhoyono mendapatkan sumbangan dari warga saat berkampanye di …

BERITA LAINNYA