Tanjung Balai Jadi Pintu Masuk Sindikat Narkoba Internasional

Antara    •    Senin, 11 May 2015 06:18 WIB
narkoba
Tanjung Balai Jadi Pintu Masuk Sindikat Narkoba Internasional
Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya menangkap dua bandar sabu. Foto: MTVN/Ilham Wibowo

Metrotvnews.com, Jakarta: Polda Sumatera Utara dan Badan Narkotika Provinsi harus mengantisipasi sindikat narkoba dari Malaysia masuk ke Pelabuhan Tanjung Balai.

"Bandar narkoba internasional itu, harus disikat habis dan diberikan sanksi hukuman berat. Bila perlu dihukum mati saja," kata Ketua DPD Gerakan Nasional Anti Narkoba Sumatera Utara Hamdani Harahap di Medan, Minggu (10/5/2015).

Sebelumnya, Polisi Air Polda Sumatera Utara, Sabtu 9 Mei, mengamankan seorang wanita berinisial LS yang kedapatan membawa 300 gram sabu dan 985 butir pil ekstasi di perairan Tanjung Balai.

Narkoba tersebut disita dari dalam sebuah kapal motor yang diduga mengangkut 44 orang tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal dari Malaysia ke Tanjung Balai.

Hamdani mengatakan, perairan Tanjung Balai dan Asahan, selama ini sering dijadikan pintu gerbang memasok narkoba dari Malaysia, Thailand, dan negara lainnya.

"Sebab, daerah tersebut berada di perairan Selat Malaka dan sangat dekat dengan Negeri Jiran. Hal ini menjadi ancaman keamanan bagi Indonesia," ujarnya.

Dia menyebutkan, para sindikat merasa aman memasukkan narkoba melalui perairan Tanjung Balai karena tak terpantau aparat. Hampir setiap pekan ada sindikat narkoba ditangkap di perairan Tanjung Balai, Asahan, dan Batubara.

"Perairan Tanjung Balai dan daerah lainnya di Sumatera Utara dapat digolongkan status darurat narkoba, hal ini juga mengancam generasi muda harapan bangsa," tegasnya.

Data di Badan Narkotika Nasional, tercatat sebanyak 4,6 juta orang Indonesia terlibat penyalahgunaan narkoba atau sekitar dua persen dari penduduk Indonesia.

Kemudian, sebanyak 15.000 orang di antaranya setiap tahun meninggal dunia secara sia-sia akibat menggunakan narkoba. 5,8 persen korban yang meninggal dunia itu adalah mahasiswa.

Biaya ekonomi dan sosial akibat pemakaian narkoba mencapai Rp36,7 triliun dan Rp11,3 triliun digunakan untuk pembelian narkoba.


(TRK)