Hari Ini Sidang Dualisme Partai Golkar Kembali Digelar

Ilham wibowo    •    Senin, 11 May 2015 10:16 WIB
golkar
Hari Ini Sidang Dualisme Partai Golkar Kembali Digelar
Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar hasil Munas Bali, Idrus Marham--Metrotvnews.com/Damar Iradat

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) akan menggelar sidang lanjutan sengketa dualisme kepemimpinan di Partai Golkar. Sidang mengagendakan penyerahan kesimpulan dari tiga pihak, yakni penggugat DPP Partai Golkar hasil Munas Bali, tergugat Kementerian Hukum dan HAM, serta tergugat intervensi DPP Partai Golkar versi Munas Ancol.

Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar hasil Munas Bali, Idrus Marham, berharap hakim PTUN segera mengambil putusan terkait sengketa dualisme kepemimpinan Partai Golkar. Tujuannya agar polemik di Golkar cepat tuntas.

"Hari ini penyerahan simpulan, kita minta agar majelis hakim mengambil putusan cepat," kata Idrus di Gedung PTUN Jakarta Timur, Senin (11/5/2015).

Idrus menilai, putusan Menkumham Yasonna H. Laoly yang mengakui kepengurusan kubu Ancol, tidak mendasar. Menkumham membuat penafsiran sendiri atas putusan Mahkamah Partai Golkar. Menurut Idrus, putusan Mahkamah Partai tak memenangkan pihak manapun.

"Di situ jelas bahwa anggota majelis Mahkamah Partai memiliki pendapat beda, sehingga tidak ada satu pandangan yang menilai keabsahan Munas IX Partai Golkar. Putusan itu juga diperkuat pernyataan Muladi, yang berpendapat bahwa pertimbangan Andi Matalata dan Djasri Marin dalam putusan itu adalah pendapat pribadi," ujar Idrus.

Ia menambahkan, siapa pun nanti pihak yang kalah di PTUN bisa menghormati keputusan majelis hakim. Ia percaya, hakim akan mengambil putusan secara independen, profesional, dan seadil-adilnya atas konflik ini.

"Kita harus menghormati putusan yang ada agar Golkar menjadi satu kesatuan utuh. Kita jangan sampai diadu-domba oleh skenario memecah belah partai dari pihak luar," pungkas Idrus.

Hingga spaat ini kisruh di internal Partai Golkar belum kunjung usai. Tensi panas di tubuh Partai Beringin belum kunjung mereda setelah kedua kubu ngotot dengan pendiriannya masing-masing. Langkah hukum yang ditempuh kedua kubu, belum mampu mempersatukan dua kubu yang terbelah.

Angin kencang yang menggoyang partai beringin bukan kali pertama terjadi. Pada 2004 dan 2010, Golkar terpecah sehingga melahirkan dua partai baru. Pada 2004, dualisme di internal Golkar menelurkan Partai Gerakan Indonesia Raya dan Partai Hati Nurani Rakyat. Sedangkan pada 2010, perpecahan di tubuh Golkar melahirkan Partai NasDem.


(YDH)