Pelindo II Protes Larangan Penggunaan Valas

Tesa Oktiana Surbakti    •    Senin, 11 May 2015 11:48 WIB
valas
Pelindo II Protes Larangan Penggunaan Valas
Ilustrasi. Antara/Agus Bebeng

Metrotvnews.com, Jakarta: Belum lama ini Bank Indonesia (BI) mengeluarkan kebijakan dalam Peraturan BI No 17/3/2015 tentang kewajiban penggunaan rupiah di wilayah NKRI dengan pertimbangan banyaknya transaksi dalam negeri yang masih menggunakan valuta asing (valas). Regulasi tersebut ditetapkan berlaku mulai 1 Juli 2015 mendatang. Korporasi yang bergerak dalam bidang penyelenggaraan pelabuhan, PT Pelindo II (Persero) pun melayangkan protes keras ihwal pelarangan tersebut.

Pasalnya, menurut Direktur Keuangan PT Pelindo II Orias Petrus Moedak, perseroan tercatat banyak menyerap kurs mata uang asing dari transaksi atas berbagai kontrak kerja sama. Dari total revenue atau arus masuk uang yang diterima perseoran, sekitar 30 persen diantaranya bermata uang dolar.

Sebagai gambaran dikatakannya revenue PT Pelindo I,II,III dan IV atas dolar saja mencapai USD700 juta per tahun. Adapun penerimaan PT Pelindo II sendiri atas dollar tahun lalu mencapai USD210 juta. Orias menilai regulasi yang dikeluarkan Bank Indonesia terbilang tendensius.

"Aneh memang, katanya kita ini pro maritim. Tapi kok aturan yang sekarang dikeluarkan terkesan menyerang sektor maritim. Pelabuhan itu kan erat dengan perdagangan internasional, demi alasan kepraktisan tentu kita charge-nya pakai dolar," papar Orias di Sukabumi, Jawa Barat, seperti dikutip Senin (11/5/2015).

Lebih jauh Orias menuturkan, pihaknya telah menyambangi Bank Indonesia untuk menyampaikan keberatan terkait kebijakan tersebut. Sayangnya, sejauh ini BI terkesan tak bergeming.

"Kita sudah bicara, nyatakan protes, tapi tidak didengar oleh pemerintah. Toh di sini kita bukan keluarkan dolar, tapi terima dolar," ujar dia. Mengingat sejumlah kontrak proyek Pelindo dengan beberapa korporasi asing sudah ditetapkan dalam kurs dolar, maka perseoran tetap akan menerima dolar. Dalam artian akan ada transaksi valas hingga aturan kewajiban penggunaan rupiah berlaku. Pun mengantisipasi kelancaran arus masuk transaksi dari luar setelah kewajiban penggunaan rupiah ditetapkan, korporasi dipastikan bakal membuat rekening bank di negara lain.

"Kalau tetap dilarang juga, kita pastikan buka account bank di luar negeri untuk menerima dolar dari korporasi-korporasi asing yang bekerja sama dengan Pelindo. Itu juga beberapa bank kita juga sudah punya cabang di luar seperti BNI Singapura," tukas Orias.

Begitu tak setujunya dengan pelarangan penggunaan valas, dia bahkan dengan lantang menyebut mungkin harus dibuat pos penukaran uang (money changer) di pelubahan agar customer asing tidak kesulitan dalam melakukan transaksi. "Mereka datang jauh-jauh kemudian kita tolak mata uang mereka gara-gara kewajiban penggunaan rupiah, terang saja itu mencoreng pelayanan yang selama ini sudah kita bangun," tukasnya.


(WID)

Setnov Datangkan Tiga Saksi Ahli di Sidang Praperadilan

Setnov Datangkan Tiga Saksi Ahli di Sidang Praperadilan

46 minutes Ago

Setya Novanto mendatangkan tiga saksi ahli di praperadilan mulai dari ahli pidanadari Universit…

BERITA LAINNYA