Pascatsunami, Jumlah Penderita Epilepsi di Jepang Meningkat

- 21 Januari 2013 15:11 wib
<p><span class=REUTERS/Miyako City Office/

" />

REUTERS/Miyako City Office/

Metrotvnews.com, Tokyo: Jumlah pasien penderita kejang atau epilepsi meningkat di kalangan nelayan sebelah utara Jepang pascaterjadinya tsunami dan gempa bumi 11 Maret 2011.

Riset yang dipublikasikan pada jurnal Epilepsia mempelajari 440 catatan pasien Rumah Sakit Kesennuma. Di kawasan tersebut dilanda tsunami dengan gempa bumi 9 skala richter.

13 pasien dirawat mengalami kejang delapan pekan setelah bencana dan hanya satu orang di rumah sakit tersebut yang mengidap epilepsi dua bulan sebelum musibah.

Studi sebelumnya mengaitkan stres karena bencana alam dengan meningkatnya risiko epilepsi, tapi data klinis lemah untuk mendukung dugaan penelitian.

"Kami menduga bahwa stres yang dikaitkan dengan bencana mungkin dapat meningkatkan generasi epilepsi," tulis Ichiyo Shibahara, seorang staf bedah syaraf Pusat Kesehatan Sendai di sebelah utara Jepang.

Akan tetapi, dia menambahkan bahwa stres bukanlah faktor universal penyebab epilepsi. "Sebagian besar pasien kejang memiliki penyakit neurologis sebelum gempa terjadi," katanya.

Timnya memeriksa catatan medis pasien di bangsal bedah saraf dalam delapan minggu sebelum dan sesudah bencana 11 Maret dan membandingkannya dengan periode waktu yang sama setiap tahun antara 2008 dan 2010.

Pada tahun 2008, antara 14 Januari dan 15 Mei, terdapat 11 pasien kejang. Di tahun 2009 ada tujuh penderita dan pada tahun 2010 hanya empat.

Dari 13 penderita setelah bencana, sebelas di antaranya sudah mengalami gangguan otak termasuk epilepsi, cedera kepala atau stroke. Semua pasien hidup mandiri dan delapan pasien telah memakai obat anti-kejang.

Shibahara mencatat bahwa dari lima pasien mengalami kejang hanya beberapa hari setelah tsunami. Jumlah itu bukan karena kurangnya obat antikejang tetapi karena stres. Satu pasien lain tidak dapat melakukan pengobatan setelah bencana.

"Sangat menarik tapi saya tidak yakin seratus persen," kata William Theodore, investigator senior klinik epilepsi pada Institut Nasional untuk Gangguan Neurological dan Stroke di Bethesda, Maryland, Amerika Serikat.

Theodore yang tidak terlibat dalam penelitian mengkritisi bahwa studi epilepsi di Jepang tersebut mengabaikan variasi acak seperti perasaan pasien.

Menurutnya, terdapat berbagai sebab lainnya bahwa epilepsi disebabkan oleh trauma kepala, infeksi air tercemar atau kurangnya tidur. (Ant/OL-9)

()

Suryadharma Ali menyebut, ada aspirasi dari bawah yang menghendaki berkoalisi dengan Gerindra.