Seberapa Besar Legitimasi Sabdaraja Dalam Keraton Yogyakarta

Patricia Vicka    •    Senin, 11 May 2015 18:49 WIB
keraton yogyakarta
Seberapa Besar Legitimasi Sabdaraja Dalam Keraton Yogyakarta
Sri Sultan Hamengkubuwono memasuki area pembacaan Sabdaraja yang mengangkat putri pertamanya menjadi peenrus tahta, Metrotvnews.com/ Patricia Vicka

Metrotvnews,com, Yogyakarta: Sepekan lalu, Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X mengeluarkan dua Sabdaraja.  Menurut Sultan, isi Sabdaraja itu berdasarkan wahyu dari leluhurnya.

Seberapa kuat bisikan leluhur itu dalam Kesultanan Yogyakarta? Peneliti sistem politik bangsawan di Indonesia, Bayu Dardias mengatakan 'kuasa langit' alias bisikan leluhur bukanlah hal baru.

"Dalam prasasti Telaga Batu yang ditemukan di Palembang yang dibangun Kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke 7 masehi mengisahkan tentang kutukan-kutukan yang akan diterima bagi mereka yang membangkang atau memberontak kepada kerajaan. Hal itu terus menerus digunakan untuk membangun legitimasi," ujar Dosen Jurusan Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada itu (UGM) melalui blog pribadinya di Yogyakarta, Senin (11/5/2015).

Di Kasultanan Yogyakarta, beberapa kali Sri Sultan mengambil keputusan besar yang berdasarkan pada bisikan leluhurnya.

"Salah satu bisikan leluhur palung terkenal adalah saat HB IX mendapatkan bisikan dari leluhur untuk membubuhkan tanda tangan karena Belanda akan segera pergi. Juga bisikan leluhur pada Sultan HB X menjelang reformasi Indonesia," jelas pria yang sedang kuliah S3 di Australian National University ini.

Bisikan leluhur itupun yang mendasari Sri Sultan mengeluarkan dua Sabda Raja. Menurut Sultan, ia harus menyampaikan bisikan leluhur pada publik karena tanggung jawab. Bila tidak, Sultan mengaku akan menanggung risiko besar.

Sementara itu menurut salah seorang abdi dalam yang tidak mau disebutkan namannya, Sabdaraja menempati posisi tertinggi dibandingkan Sabda Sultan lainnya di Keraton Yogyakarta. "Sabda raja adalah semacam perintah dari Raja. Siapapun tak berani melawannya jika tidak mau kualat (menerima akibatnya)," imbuh Abdi dalam tersebut.

Sri Sultan mengeluarkan Sabdaraja pertama pada 30 April 2015. Sabdaraja kedua yaitu pada 5 Mei 2015. Keduanya berisi hal-hal yang dianggap keluar dari paugeran (peraturan) yang selama ini berlaku di keraton Yogyakarta.

Pada Sabdaraja kedua, Sultan mengganti nama putri pertamanya dari Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun menjadi GKR Mangkubumi. Mangkubumi merupakan gelar untuk penerus tahta. Sementara tradisi Keraton Yogyakarta selalu menjadikan anak laki-laki sebagai putra mahkota, bukan perempuan.
 


(RRN)

Pakar Nilai Sidang KTP-el Setya Novanto Sudah Seharusnya Dilanjutkan

Pakar Nilai Sidang KTP-el Setya Novanto Sudah Seharusnya Dilanjutkan

10 minutes Ago

Pakar hukum pidana Asep Iwan Iriawan menilai proses praperadilan Setya Novanto seharusnya gugur…

BERITA LAINNYA