Efek Samping Gawai

Mengkerutnya Sentuhan Sosial Hari Ini

   •    Selasa, 12 May 2015 14:23 WIB
opini
Mengkerutnya Sentuhan Sosial Hari Ini
Thinkstock

Oleh: Muhammad Sufyan Abd. (Dosen Fakultas Komunikasi Bisnis Telkom University)
 
Jikalau bertutur utilisasi gawai di Indonesia, terutama ponsel cerdas, kita sekarang mengalami fase yang jamak ditemukan dimana-mana (omnipresent, ubiquitous), yakni penggunaan gawai sekaligus dan simultan dengan berbagai aktivitas keseharian yang sebenarnya cukup sulit.

Proses multitasking tersebut membuat, sebutlah dari mulai rapat kantor yang sangat serius, bisa diselingi dengan mengecek berita daring, memantau status kolega di media sosial/pesan instan, bahkan melihat video (tanpa suara) yang tengah menjadi subjek viral warga internet.

Di sisi lain, dalam suasana cair-informal pun, semisal bertemu di restoran dan atau kedai kopi untuk reuni, proses serupa terjadi; wajah dan fisik memang bersua, rona kerinduan muncul karena sekian lama tak bertemu namun sekilas, lalu kemudian asyik dengan ponsel cerdasnya masing-masing.

Padahal, baik reuni apalagi rapat kantor, tentu memiliki kadar urgensi tinggi. Keduanya membutuhkan keterlibatan jiwa yang bukan hanya intensif, namun sepenuhnya tulus melihat dan mendengarkan, sekaligus menautkan pikiran dan hati satu dengan lainnya.

Kita memang tetap bergaul pada era digital sekarang. Tetap berinteraksi dengan sesama, akan tetapi tidak ada perjumpaan di dalamnya. Kita pun masih hidup bersama-sama, namun pertemuan wajah dengan wajah yang hakiki, terus memudar hari demi hari.

Inilah, barangkali, wajah kita hari ini di ruang sosial. Konsultan teknologi informasi, Accenture, dalam survei terbarunya ke 3.600 profesional respondennya pada 30 negara (termasuk Indonesia) menyebutkan, 80 persen responden terbiasa melakukan multitasking terkait gawai ketika sedang dalam pertemuan/konferensi.

Dalam jawaban terbukanya, responden mengaku rapat seraya 66 persen sambil mengecek surat elektronik/surel kantor, 35 persen mengecek pesan singkat, 34 persen mengecek surel pribadi, 22 persen mengecek media sosial, 21 persen membaca berita dan hiburan.

Dalam berbagai literatur kontemporer, gejala hilangnya sentuhan akibat peranti elektronik ini disebut electronic display of insentivity (EDI) atau ketidakpekaan akibat layar elektronik. Lambat laun, EDI selalu berpotensi dan bahkan terbukti merusak hubungan personal.

Selain destruksi secara afeksi, EDI juga ditenggarai memicu potensi ketidaknyaman akibat meningkatkan ancaman keamanan, pencurian data, peretasan, dan beragama kejahatan maya (Joseph Grenny, Crucial Conversations, Influencer, and Change Anything). Survei Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, Bandung, menunjukkan, 5-10% pengguna heavy gawai (maniak) terbiasa menyentuh perangkatnya 100-200 kali dalam sehari.

Apabila waktu efektif manusia beraktivitas 16 jam atau 960 menit/hari, maniak gawai akan menyentuhnya 4,8 menit sekali. Bila angka interaksinya selekat itu, dalam opini penulis, mereka pasti sulit menjalani kehidupan nyata.

Jika dia dipisahkan dari gawai, maka segera muncul rasa gelisah dan tidak dapat beraktivitas di dunia nyata.


Jangankan rapat serius, untuk diajak ngobrol saja pasti sulit. Kiprah orang-orang semacam ini (boleh jadi kita termasuk di antaranya) di dunia nyata akan berkurang. Jika dia dipisahkan dari gawai, maka segera muncul rasa gelisah dan tidak dapat beraktivitas di dunia nyata.

Lantas, jika orang macam ini didiamkan terus berlaku seperti ini, maka bukan tidak mungkin akhirnya menjadi pengidap attention deficit disorder (ADD). ADD akan membuatnya sulit konsentrasi, lebih dekat dengan orang jauh, mengabaikan kolega terdekat, fokus perhatian sulit muncul dalam waktu lama, sehingga sekalinya ketinggalan gawai, dunia seolah sudah berakhir karena tak ada aktivitas riil yang bisa dilakukannya dengan nyaman.

Apa yang Harus Dilakukan?
Prinsipnya, kita tak bisa mengelak dari hakikat dasar seorang manusia. Bukan berarti kita kemudian pasrah dengan paparan negatif gawai seperti diulas di atas, amun sejarah memperlihatkan betapa manusia memang tak bisa lepas peranti yang membantunya.  

Sudah sejak  zaman prasejarah, manusia menggunakan teknologi seperti batu, kayu, atau  logam, guna menjadi senjata, alat masak, alat transportasi, dan banyak lagi.  Bahkan, sebelum manusia prasejarah berkembang  menuju spesies homo erectus/manusia yang berdiri tegak, terlebih dahulu mereka  mengalami fase homo habilis (manusia yang menggunakan alat).

Jadi, seluruh alat bantu kehidupan manusia dari dulu hingga sekarang, termasuk gawai, merupakan teknologi --kata dasarnya dari istilah bahasa Yunani, techne,  yang berarti seni, keterampilan, atau kerajinan tangan. Maka, merujuk konsep  dasar dan etimologi tersebut, teknologi bisa diklasifikan sebagai “extension of men.”

Persoalannya kemudian, seperti kita temukan hari ini, alat bantu tersebut mengalami cukup banyak deviasi, sehingga sentuhan sosial terus mengkerut.  Merujuk situasi ini, ada dua hal yang harus jadi titik pijak kita sekaligus rekomendasi akan apa yang harus dilakukan agar sentuhan sosial kembali hangat dan nyaman.

Pertama, merujuk konsep Neil Postman dalam Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in The Age of Show Business, pastikan jangan sampai terjadi secara total yang disebut dengan proses “Pertukaran  Faustian”. Pertukaran tersebut menekankan bahwa ketika teknologi baru datang, maka ada keuntungan baru sekaligus komponen lama yang diambil dari kehidupan manusia.

Misalnya, kehadiran  teknologi kendaraan bermotor yang selain memudahkan mobilitas ummat manusia, juga membawa dampak serius ke lingkungan hidup (pencemaran udara, menigkatnya emisi, dst). Secara mudah, kita bisa mereduksi mengkerutnya sentuhan sosial antara lain dengan memastikan bahwa sekalipun ada gawai dengan segala kecanggihan di dalamanya, di atasnya tetap ada waktu pribadi (me time) dan waktu bersama (we time), terutama dengan keluarga inti.

Jangan biarkan semua anggota keluarga kita asyik sendiri, berselancar masing-masing di dunia maya saat berkumpul. Fisiknya bareng, tidak jiwanya. Maka, begitu sampai rumah, cari aktivitas pribadi dana atau bersama yang bisa mengalihkan perhatian kita dari gawai!

Hal lain yang bisa meminimalisir adalah jangan biasakan mengakhiri dan memulai hari dengan gawai.  Ketika mau tidur, kita ingin cek status terbaru kolega di akun media sosial, ketika baru bangun pun segera menyimak apakah ada obrolan terbaru dalam medium chatting yang kita ikuti.

Jika kebiasaan ini kita pelihara, dengan sendirinya kita terbiasa mengabaikan hal penting yang dekat dengan kita dan memberi perhatian kepada orang jauh.  Bahkan, lama-kelamaan, kita akan memaksakan selalu merespons dunia maya sekalipun tidak tepat misalnya saat menyetir.

Kedua, agar sentuhan sosial kembali pulih, maka kembalikan kejujuran personal kita saat berelasi. Maksudnya, jika norma timur selalu mengajarkan pandang dengan santun wajah orang yang sedang berbicara dengan kita, maka lakukan kembali hal tersebut.

Jika kita merasa kebiasaan kita beberapa waktu belakangan ini salah, maka “jujur” lah saat menggunakan gawai. Jika Anda merasa keluarga atau seseorang akan marah dengan kebiasaan kita ketika menggunakan gadget, itulah pertanda kebiasaan kita memang salah.

Kita tahu bahwa atasan kita tidak suka kalau kita malah asyik Twitter-an saat rapat, maka mari jujurlah pada diri sendiri! Ini secara perlahan bisa memberikan kita kemampuan memberi tahu orang sekitar bahwa saat tertentu jika kita akan telat membalas pesan di gawai.

Akhir kata, kita kembalikan utilitas gawai pada fungsi sebenarnya, extension of men, (sekadar) alat bantu manusia pada sisi produktivitas, yang selain mempermudah pekerjaan, juga memastikan bahwa relasi sosial kita tetap bisa terjaga hangat dan nyaman.


(ABE)

Irman Kembali Diperiksa KPK sebagai Saksi Setnov

Irman Kembali Diperiksa KPK sebagai Saksi Setnov

8 hours Ago

KPK kembali memeriksa mantan Dirjen Dukcapil Kemendagri Irman. Irman diperiksa sebagai saksi un…

BERITA LAINNYA