Biaya Operasional Tinggi, Perusahaan Bus Gulung Tikar

LB Ciputri Hutabarat    •    Selasa, 12 May 2015 16:27 WIB
angkot
Biaya Operasional Tinggi, Perusahaan Bus Gulung Tikar
Loket oto bus di Terminal Depok sepi. (Foto: MTVN/LB Ciputri Hutabarat)

Metrotvnews.com, Depok: Tingginya biaya operasional membuat penyedia layanan bis Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) di Terminal Depok gulung tikar.
 
Koordinator PO. Luragung Jaya, M. Ridwan, 34, mengeluhkan biaya operasional yang tak sebanding dengan jumlah penumpang.
 
"Bahan Bakar Minyak (BBM) sampai harga suku cadang mahal. Tarif yang ditentukan pemerintah Rp 65 ribu perorang belum cukup untuk akomodasi mobil. Apalagi sekarang penumpang sedikit," kata Ridwan saat kepada Metrotvnews.com, di Terminal Depok, Selasa (12/5/2015).
 
Ia mengungkapkan, untuk mengatasi tingginya biaya opersional, perusahaan ditempatnya mengurangi jumlah armada. "Kemarin itu ada 11 bus yang melayani Depok-Cirebon. Sekarang tinggal enam bus. Kalau dipertahankan biaya operasinya terlalu tinggi," ungkapnya.
 
Selain itu, tidak stabilnya harga BBM menjadi kendala dalam menentukan harga. "Kami bingung menjelaskan sama konsumen. Harga BBM naik turun," jelasnya.
 
Dirinya berharap, pemerintah mampu menghitung ulang batas tarif tinggi yang direkomendasikan pada perusahaan penyedia layanan bus. Cara itu menjadi salah satu solusi perusahaan agar bisa memberikan pelayanan kembali ke masyarakat.
 
Diketahui beberapa perusahaan seperti PPD, Steady Safe, Mayasari, Bianglala, Sukmajaya dan Serasi mengurangi trayeknya bahkan sampai gulung tikar. Sekarang, hanya sembilan perusahan penyedia layanan bis yang masih bertahan.


(FZN)