Berbekal Visa, WN Tiongkok Lakukan Kejahatan Cyber di Indonesia

Aedy azeza ulfi    •    Selasa, 12 May 2015 16:37 WIB
wna
Berbekal Visa, WN Tiongkok Lakukan Kejahatan <i>Cyber</i> di Indonesia
Barang bukti Kejahatan cyber ----Metrotvnews.com/Aedy

Metrotvnews.com, Jakarta: Puluhan warga Tiongkok yang dibekuk Polda Metro Jaya ternyata mengantongi visa. Visa itu ditemukan saat polisi membekuk mereka, dini hari tadi.

"Kami sita sejumlah paspor dan visa mereka," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Heru Pranoto di Ruko Elang Laut Jalan Boulevard, Pantai Indah Kapuk, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (12/5/2015).

Heru belum dapat memastikan apakah visa tersebut legal atau tidak. Polisi akan berkoordinasi dengan Dinas Keimigrasian buat memverifikasi visa tersebut.

"Lembaga Imigrasi akan bantu penyelidikan," ujarnya.

Kejahatan cyber ini diduga sudah dilakukan 30 warga Tiongkok tersebut dalam setahun terakhir. Sebab, ruko yang menjadi tempat mereka beraksi sudah disewa sejak lama.

"Sudah disewa satu tahun, tapi pengakuan mereka dua bulan," jelas dia.

Berbeda dengan Heru, Kepala Kantor Imigrasi Jakarta Utara, Hambali Haryadinata, menyatakan, visa dan paspor yang dimiliki pelaku legal.

"Paspor masih berlaku 5 tahun, visa pun bisa perpanjangan 1 bulan, saat ini visa masih aktif. Jika mereka memang sudah satu tahun di sini (Jakarta) artinya mereka bolak balik ke Tiongkok-Indonesia dan buat baru visa," papar Hambali.

Ia menambahkan pelaku menggunakan visa dengan status sebagai wisatawan. "Izin berwisata," singkatnya.

Polda Metro Jaya menangkap 30 WN Tiongkok terkait kasus Cyber Crime, penipuan kartu kredit, di Ruko Elang Laut Jalan Boulevard, Pantai Indah Kapuk, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa dini hari. Mereka ditangkap setelah polisi menyelidiki keresahan warga sekitar yang melapor.

Pelaku berpura-pura berdagang keranjang bayi di tempat operasinya. Modus operasi, mereka dapatkan data pemegang kartu dari Tiongkok, kemudian mengolah data di Jakarta dan membuat seolah pemegang kartu lakukan transaksi jual beli dan memotong saldonya.

Sanksi terhadap penipuan ini masih perlu didalami kepolisian karna berkaitan dengan keimigrasian. Barang bukti yang disita, pesawat telepon, kartu kredit, tab, printer, pas foto, dompet, handphone, laptop, kalkulator, kertas struk, mesin gesek ATM, modem, CPU, kabel, sejumlah dokumen, flash disk, paspor, dan alat perekam.


(TII)