Bulog Terus Jemput Bola ke Petani

Ade Hapsari Lestarini    •    Selasa, 12 May 2015 16:56 WIB
bulog
Bulog Terus Jemput Bola ke Petani
Ilustrasi -- MI/PANCA SYURKANI

Metrotvnews.com, Jakarta: Upaya yang dilakukan oleh Perum Bulog terkait pengadaan beras dan gabah mendapat apresiasi dari para petani. Meski harga gabah dan beras saat ini sedang tinggi, namun Bulog dinilai terus berupaya dalam melakukan jemput bola.

"Kalau harga di tingkat petani tinggi, Bulog akan membeli beras dari mitra dengan harga sesuai harga pemberian pemerintah (HPP). Jadi, mereka melakukan segala upaya dan itu harus diberi apresiasi," ucap Ketua Gabungan Kelompok Petani (Gapoktan) Kabupaten Barru Sulawesi Selatan, Mursalim, dalam siaran persnya, di Jakarta, Selasa (12/5/2015).

Saat ini, harga gabah kering di tingkat petani memang terbilang tinggi. Di Kabupaten Barru, menurut Mursalim, harga gabah sudah mencapai Rp4.100 per kilogram (kg) atau di atas HPP sebesar Rp3.700 per kg. Dalam kondisi demikian, Bulog diakui mengintensifkan pembelian beras pada penggilingan, yakni sebesar Rp7.300 per kg sesuai HPP.

Pakar pangan dari IPB, Koekoeh Santoso, mengatakan situasi yang dihadapi Bulog saat ini memang cukup sulit. Tingginya harga beras dan gabah di tingkat petani, membuat Bulog harus berjuang keras dalam melakukan penyerapan, dengan target tahun ini 4,5 juta ton setara beras.

Target itu dinilai cukup berat, karena Bulog tidak bisa membeli gabah di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Namun Koekoeh yakin, Bulog tetap bisa menjalankan perannya dengan baik tidak hanya dalam pengadaan, namun juga distribusi, sehingga fungsi sebagai penyangga beras nasional bisa berjalan lancar.

"Makanya, Bulog memang harus dipersenjatai. Selain mempermudah urusan distribusi dan operasi pasar, juga anggaran yang cukup untuk pengadaan," kata Koekoeh.

Bulog juga dinilai bisa mengatasi hal tersebut, sehingga harga bisa kembali normal dan stabil. Pasalnya, selain memiliki stok yang cukup, Bulog juga memiliki jaringan distribusi yang kuat di berbagai daerah, sehingga ketika harga bergerak naik, bisa dengan cepat melakukan operasi pasar.

Kendati demikian Bulog tidak serta-merta bisa mengeluarkan stok beras dari gudang, karen harus menunggu perintah agar bisa melakukan operasi pasar. "Begitu pula saat ini, ketika harga beras dan gabah meningkat naik. Kementerian Perdagangan harus mengeluarkan perintah kepada Bulog untuk melakukan operasi pasar," kata Koekoeh.

Kenaikan harga beras dan gabah juga dinilai bukan kesalahan Bulog. Sebab, selain sebagai komoditas perdagangan, beras juga merupakan komoditas politik yang sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan oleh kelompok yang berkepentingan.

Untuk mengendalikan harga tersebut, masyarakat diharap memberi informasi bahwa stok beras mencukupi kebutuhan nasional, minimal untuk empat bulan ke depan. "Selain melalui informasi, operasi pasar juga merupakan jawaban bahwa stok dalam keadaan cukup. Makanya pemerintah harus mengeluarkan perintah tersebut," pungkas dia.


(AHL)

KPK Pertimbangan <i>Second Opinion</i> Soal Setnov

KPK Pertimbangan Second Opinion Soal Setnov

1 hour Ago

KPK masih mempertimbangkan keterangan dokter atau pihak IDI terkait perawatan kesehatan yang se…

BERITA LAINNYA