Mengintip Rekam Jejak GKR Mangkubumi

Patricia Vicka    •    Selasa, 12 May 2015 19:40 WIB
keraton yogyakarta
Mengintip Rekam Jejak GKR Mangkubumi
GKR Mangkubumi, MI/ Moh Irfan

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun kini menjadi bahan pembicaraan di media maupun masyarakat. Sebab Sri Sultan Hamengkubuwono X mengganti namanya menjadi GKR Mangkubumi. Biasanya, gelar Mangkubumi dilekatkan pada putra mahkota Keraton Yogyakarta. Sebagai seorang perempuan, layakkah GKR Mangkubumi menerima tahta?

GKR Pembayun merupakan putri pertama Sri Sultan dengan GKR Hemas. Ia lahir pada 24 Februari 1972. Di lingkungan keraton, ia menjabat sebagai salah satu Penghageng alias lurah putri.

Ibu dua anak itu bertugas mengharmoniskan hubungan empat adiknya dan keluarga besar Keraton. Ia juga mengemban tugas memimpin upacara adat, seperti Tumpak Wajik dan Persi Burak. Tujuannya yaitu menjaga akar budaya Jawa di tengah gempuran modernisasi.

Baginya, keraton merupakan pusat kebudayaan yang menjadi saringan modernisasi. Namun, itu bukan berarti Keraton tak melek kemajuan zaman.

Buktinya, sebagai seorang perempuan Jawa, GKR Pembayun berkiprah di bidang ekonomi. Ia menjabat sebagai Direktur PT Yogyakarta Tembakau Indonesia dan PT Yarsilk Gora Mahottama, serta Komisaris Utama PT Madubaru. PT Yogyakarta Tembakau Indonesia adalah perusahaan sosial yang dibangun dengan tujuan untuk mengurangi pengangguran di Bantul, Yogyakarta.

Perempuan lulusan International School of Singapore itu juga berkecimpung di kegiatan sosial. Pada 2002, ia menjabat sebagai Ketua Karangtaruna  Provinsi DIY selama 10 tahun. Selama menjabat, ia mengarahkan organisasi itu untuk membina kepemimpinan dan meningkatkan sumber penghidupan kamu muda.

Lulusan Griffith University Brisbane, Queensland, Australia, itu juga aktif bekerja sama dengan BKKBN. Misinya yaitu menangani masalah kesehatan reproduksi dan kesetaraan gender.

Sejak 5 Mei 2015, GKR Pembayun berubah nama menjadi GKR Mangkubumi. Ia mengakui perubahan nama dibarengi dengan tanggung jawab dan tugas yang berat.

"Dari nama lengkap sendiri Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi Hamamayu Hayuning Bawono Langgeng itu kan nama yang besar. Di pundak saya ini ada tugas besar untuk menjaga dan melestarikan alam Mataram," ujarnya saat ditemui di kediamannya pada 8 Mei 2015.

Meski demikian, ia siap menjalankan tugas tersebut. "Sedari dulu kami memang dipersiapkan untuk menjadi penerus. Namun keputusan selanjutnya biarlah Gusti Allah yang menentukan. Karena Raja, keraton dan kami semua milik Gusti Allah," tuturnya singkat.

Sultan pun menegaskan tak bisa memutuskan hal tersebut. Sebab, ia hanya menjalani perintah atau dawuh melalui para leluhurnya untuk mengganti nama GKR Pembayun menjadi Mangkubumi.


(RRN)