Hubungan RI-Papua Nugini Melintasi Isu Perbatasan

Fajar Nugraha    •    Rabu, 13 May 2015 10:57 WIB
indonesia-papua nugini
Hubungan RI-Papua Nugini Melintasi Isu Perbatasan
Penandatanganan kerja sama RI dan Papua Nugini (Foto: Setkab.go.id)

Metrotvnews.com, Port Moresby: Indonesia dan Papua Nugini terus memperkuat hubungan kerja sama. Bilateral antara kedua negara melintasi isu perbatasan.
 
Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mendampingi Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara dalam kunjungan kenegaraan ke Port Moresby, Papua Nugini, pada 11-12 Mei 2015. Kunjungan tersebut adalah untuk memenuhi undangan Perdana Menteri Papua Nugini, Peter O’Neill dan merupakan kunjungan pertama Presiden Joko Widodo ke Papua Nugini.
 
Dalam pertemuan bilateral, Presiden RI dengan Perdana Menteri Papua Nugini sepakat menjadikan hubungan kedua negara di tahun ke-40 pada tahun 2015 ini menjadi lebih dekat dan mengembangkan hubungan beyond border issues atau melintasi isu perbatasan antara kedua negara.
 
"Kedua pemimpin menegaskan akan mendorong intensifikasi implementasi Rencana Aksi Kemitraan Komprehensif yang disepakati pada 2013. Bidang utama dalam Rencana Aksi tersebut meliputi kerja sama ekonomi khususnya investasi, energi, people-to-people contact, hukum dan pertahanan dan pengelolaan perbatasan," pernyataan Kementerian Luar Negeri, dalam keterangan tertulis yang diterima Metrotvnews.com. Rabu (13/5/2015).
 
Di bidang ekonomi, Presiden Jokowi dan PM Papua Nugini sepakat untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dengan mendorong perdagangan di luar pasar perbatasan yang mencapai USD4,5 juta per tahun. Kedua pemimpin menekankan pentingnya penguatan kerja sama di bidang investasi dan pembangunan infrastruktur. Upaya untuk menggiatkan keterlibatan sektor swasta di bidang energi, telekomunikasi, perkebunan, kehutanan, dan perikanan juga menjadi kesepakatan kedua pemimpin.
 
Secara khusus, Presiden Jokowi dan PM O’Neill sepakat untuk terus meningkatkan konektifitas Indonesia dan Papua Nugini yang akan memfasilitasi peningkatan hubungan antara komunitas bisnis serta interaksi sosial ekonomi masyarakat kedua negara. Untuk itu, Kedua pemimpin menyambut baik kesepakatan Garuda Indonesia untuk melakukan code share dengan Air Niugini pada jalur Port Moresby-Denpasar-Jakarta dan Port Moresby-Singapura-Jakarta. 
 
Selain itu juga disambut baik segera dilaksanakannya pemberian bebas visa oleh Papua Nugini bagi pemegang paspor diplomatik dan dinas dari Indonesia.
 
Di bidang sosial budaya, kedua pemimpin sepakat untuk terus mengintensifkan hubungan antar masyarakat atau biasa disebut people-to-people contact. Kerja sama konkrit di bidang pendidikan dengan pemberian beasiswa oleh kedua negara akan diintensifkan seperti, pertukaran pelajar dan tenaga pengajar serta kerja sama di bidang olahraga.
 
Dalam kunjungan kenegaraan kali ini telah disepakati dua Nota Kesepahaman yaitu, terkait kerja sama di bidang penanggulangan kejahatan lintas batas yang juga meliputi masalah penyelundupan narkoba dan terorisme dan kerja sama peningkatan kapasitas sumber daya manusia untuk eksplorasi minyak dan energi yang akan diberikan oleh Indonesia ke Papua Nugini.
 
Terkait dengan isu-isu kawasan, kedua pemimpin juga sepakat meneruskan kerja sama kedua negara di berbagai forum regional dan global termasuk APEC, ASEAN, MSG, PIF, SwPD, CTI-CFF, PBB. Indonesia juga menyampaikan kesiapannya untuk  berkontribusi dan membantu secara teknis dalam persiapan Papua Nugini sebagai Ketua APEC tahun 2018 termasuk penyelenggaraan pertemuan KTT APEC.
 
Dalam kunjungan ini, Presiden RI juga telah melakukan pertemuan dengan Gubernur Jenderal Sir Michael Ogio dan Ketua Parlemen Theo Zurenuoc. Presiden Joko Widodo juga menyampaikan sambutan di hadapan sekitar 150 pengusaha Papua Nugini dan mengajak para pengusaha untuk memanfaatkan berbagai peluang serta meningkatkan hubungan kerja sama antara business to business kedua negara.
 
Papua Nugini adalah mitra dagang terbesar Indonesia diantara negara-negara kepulauan di kawasan Pasifik. Volume perdagangan antara kedua negara pada 2014 mencapai USD206,68 juta dengan ekspor Indonesia ke Papua Nugini pada 2014 mencapai USD159,12 juta. Jumlah warga negara Indonesia yang bekerja di Papua Nugini mencapai lebih dari 1.100 orang.



(FJR)