Jokowi: Kita harus Optimistis dan Pantang Menyerah

- 25 Januari 2013 11:58 wib
<p><span class=ANTARA/Andika Wahyu/bo

" />

ANTARA/Andika Wahyu/bo

Metrotvnews.com, Jakarta: Kepemimpinan pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur dan Wagub DKI Jakarta telah memasuki hari ke-100. Banyak yang telah melakukan pengkajian atas kinerja keduanya sebagai pemimpin Ibu Kota tercinta.

Dalam acara yang bertajuk "100 Hari Jokowi", Aviani Malik dan Indra Maulana, presenter MetroTV, mewawancarai Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, yang disiarkan langsung dari posko pengungsian banjir Penjaringan, Jakarta Utara, pada Kamis (24/1). Berikut petikannya:

Banyak sekali pekerjaan rumah sebagai Gubernur DKI Jakarta, terlebih banjir yang menerjang Jakarta satu minggu terkhir ini. Bagaimana pak, sempat terlihat Bapak sering menepuk kening seperti itu. Pusing tidak sih, Pak Jokowi?

Ndak. Ini awal yah. Memang awal saya masuk, kemudian diberi beberapa cobaan bersama dengan masyarakat. Tapi mungkin ini juga menjadi sebuah berkah untuk mengingatkan kita semuanya bahwa banjir di Jakarta ini sejak 1932 yang lalu sudah ada. Dan ini memang dari tahun ke tahun diselesaikan. Tapi seperti yang kita tahu, sampai detik ini masih terjadi di Ibu Kota
Jakarta.

Bapak sampai saat ini merasa sudah melakukan yang terbaik untuk warga Jakarta, terkait persoalan banjir ini?

Kalau saya memang bekerja pagi siang malam. Tetapi mengenai penilaian, saya serahkan pada masyarakat. Saya beserta manajemen organisasi yang dimiliki sudah bekerja. Ditambah juga dukungan dari Kodam, Kopasus, Marinir, Kepolisian, semuanya bergerak. Sekali lagi yang menilai adalah masyarakat. Saya dinilai jelek tidak apa-apa, dinilai tidak baik juga tidak
apa-apa. Semuanya saya serahkan pada masyarakat.

Dalam menangani persoalan satu minggu ini yang menghantam Ibu Kota, apa sih tantangan terbesarnya?

Ya memang, titik-titik banjir sebenarnya sudah kita ketahui di mana letaknya. Tetapi saat itu karena tanggul di (Jalan) Latuharhary jebol selebar 30 meter. Air masuk semuanya ke kota. Setelah masuk ke kota, di Thamrin, di Bundara HI, masuk ke kampung-kampung sampai juga ke Penjaringan, ke Pluit ini. Ini semua akibat jebolnya tanggul Latuharhary, karena Ciluwung waktu itu tinggi sekali, dan tanggulnya jebol. Sehingga Pluit juga masih terendam
sampai sekarang.

Apakah sesederhana itu pak? Seminggu ini saya lihat jalan-jalan di Ibu Kota seperti bukan di Jakarta gitu pak. Ada perahu kayu, perahu karet, ini seperti ada di kanal. Bukan kota ini pak. Apakah hanya sesimpel itu pak, hanya karena Latuharhary?

Kalau sesederhana seperti yang tadi dikatakan, mungkin sudah terbaiki sejak bertahun-tahun yang lalu. Ini sebuah masalah kompleks. Dari hulu hingga hilir, di atas sampai bawah. Kalau di Jakarta dibenahi, tetapi di hulunya tidak ada artinya. Tetapi negara-negara lain mampu menangani masalah ini, kenapa kita tidak. Tetap kita harus optimistis, pantang menyerah.

Kemudian, di tengah acara, dibuat sesi perbincangan dengan beberapa masyarakan yang sebelumnya mengajukan pertanyaan dengan Gubernur Jokowi.

Berikut adalah pertanyaan dari Sujiono, salah satu warga Pluit Dalam, Jakarta Utara, yang juga menjadi pengungsi akibat banjir.

Ini mau menanyakan peremajaan Metromini, Kopaja, dan juga Kopami. Ingin mendengarkan secara langsung. ini ke depannya bagaimana. jadi biar jelas, Bapak Jokowi ingin membawa persoalan ini seperti apa, apakah kopaja mau dihapuskan atau bagaimana.

Jadi ini baru kemarin dimulai. Jadi Kopaja sudah boleh masuk di jalur Busway. Kemudian dipakai dengan E-ticket. Jadi semuanya nanti akan terintegrasi. Jadi tahun ini akan disediakan 1000 lebih Kopaja dan Metromini yang ditukarkan dengan Kopaja dan Metromini yang ada sekarang. Supaya apa, ini Kopaja dan Metromini sudah 20 sampai 30 tahun, sudah tidak
layak. Ini semua harus kita ganti. Tetapi begini, Kopaja dan Metromini ini harus ada yang menaungi. Itu nanti tetap bisa menjadi miliki pribadi silakan, miliki koperasi silakan, milik badan hukum silakan. Tetapi ada yang menaungi. Sehingga pembinaannya gampang. Supir dan bengkel ada yang mengontrol."

Perbincangan dilanjutkan kembali oleh Aviani Malik dan Indra Maulana dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.

Lalu bagaimana soal isu ganjil-genap kendaraan yang melintas. Jadi atau tidak berlaku untuk Maret ini?

Proses kalkulasi sudah. Karena itu kan harus ada kajian kalkulasi ekonominya, kalkulasi sosialnya saperti apa, kalkulasi politiknya seperti apa, karena juga kan menjelang pemilu. Dikhawatirkan masyarakan akan ramai. Bisa saja maju atau mundur dari perkiraan, sesuai dengan kalkulasi perhitungan tadi.

Sempat ramai juga soal pembangunan enam ruas jalan tol. Itu jadinya bagaimana. Banyak yang menganggap bahwa hal tersebut hanya akan menguntungkan pemilik mobil pribadi, sementara bapak mengatakan pro transportasi massal.

Jadi yang enam ruas jalan tol kita kan sudah melakukan uji publik. Mendengarkan suara masyarakat. Ternyata hampi 80 persen menentang, banyak yang tidak suka enam ruas jalan tol ini dibangun. Sehingga saya endapkan dulu. Saya ingin berpikir jernih apakah diteruskan atau tidak. Saya minta waktu untuk berpikir. Tetapi saya ingin agar semuanya harus legowo jika dilanjutkan ataupun tidak." (X-14)

()

MESKI sudah tercapai kata islah atau damai, namun kubu Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Suryadharma…