Polda Periksa 6 Saksi Terkait Kasus Anak Diusir Orangtua

Aedy azeza ulfi    •    Jumat, 15 May 2015 16:19 WIB
penelantaran anak
Polda Periksa 6 Saksi Terkait Kasus Anak Diusir Orangtua
Ilustrasi--Metrotvnews.com/Husen Miftahudin

Metrotvnews.com, Jakarta: Penyidik Polda Metro Jaya berupaya mempercepat penyelidikan kasus diusirnya anak dengan inisial D dari rumahnya. Saat ini peenyidik telah diperiksa enam saksi.

"Saksi yang diperiksa ada enam orang sampai dengan saat ini," ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Heru Pranoto di Mapolda Metro Jaya, Jumat (15/5/2015).

Hingga saat ini penyidik Polda Metro Jaya belum menetapkan tersangka kepada kedua orangtua D. "Nanti ada mekanisme, setelah selesai akan kita gelar perlu tidaknya ditingkatkan menjadi proses penyidikan. Kalau sudah ditingkatkan jadi proses penyidikan, maka polisi harus sudah mengumpulkan bukti bukti," katanya.

Heru menambahkan untuk penetapan tersangka kepada kedua terlapor, Utomo dan Nurindiah, dibutuhkan alat bukti yang cukup. "Karena dalam 183 KUHAP itu memang sekurang-kurangnya dua alat bukti, tapi kita punya standar sendiri, kita minimal punya tiga alat bukti. Untuk kita lebih mengetatkan lagi, menajamkan lagi pembuktian dari perbuatan si para terlapor. Dan sekarang ini sedang kita lakukan di TKP," papar Heru.

Polda Metro Jaya berencana akan datangi saksi ahli dari psikologi, bimbingan untuk anak. Heru mengatakan KPAI adalah pelapor korban. Psikolog akan ditunjuk untuk terlapor dan termasuk anak untuk diketahui situasi psikologisnya.

Sebelumnya aparat Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menangkap kedua orangtua yang menelantarkan anaknya, inisial D, di Cibubur. D diusir dari rumahnya, tidak diberikan makan, dan tidak sekolah selama satu bulan. Ayah kandung korban berkerja sebagai dosen di sebuah sekolah tinggi di Cilengsi, Bogor.

Sedangkan ibu kandung korban hanya ibu rumah tangga. Keduanya ditangkap sekitar pukul 12.00 WIB di Perumahan Citra Gran Cluster Nusa II Blok E nomor 37, Cibubur, Pondok Gede, Bekasi.

Kedua orangtua kandung korban melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014 Pasal 76 b dan 77 b. Ancaman hukuman lima tahun penjara maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp100 juta.


(YDH)