Kenaikan Upah Buruh Indikasikan Penurunan Tingkat Kemiskinan

Gabriela Jessica Restiana Sihite    •    Jumat, 15 May 2015 17:55 WIB
upah
Kenaikan Upah Buruh Indikasikan Penurunan Tingkat Kemiskinan
Ilustrasi. Antara/M Agung Rajasa

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja memaparkan kenaikan upah buruh tani dan buruh konstruksi di April lalu. Tingkat kenaikan upah nominal harian buruh tani nasional pada April 2015 sebesar 0,27 persen ketimbang Maret 2015, yaitu dari Rp46.180 per hari menjadi Rp46.306 per hari.

Secara riil, kenaikan upah harian buruh tani nasional sebesar 0,06 persen. Sementara upah nominal harian buruh konstruksi pada April 2015 naik 0,39 persen jika dibandingkan dengan Maret 2015 atau dari Rp79.657 per hari menjadi Rp79.970 per hari. Secara riil naik sebesar 0,03 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo menjelaskan naiknya upah riil buruh tani mengindikasikan adanya penurunan tingkat kemiskinan di perdesaan, sedangkan naiknya upah riil buruh konstruksi mengindikasikan penurunan tingkat kemiskinan di perkotaan. Perubahan upah riil, kata dia, menggambarkan perubahan daya beli dari pendapatan yang diterima buruh. Semakin tinggi upah riil, semakin tinggi pula daya beli upah buruh.

Upah riil buruh tani nasional pada April sebesar Rp38.546 per hari, naik dari Rp38.522 per hari pada Maret.

"Secara nominal, upah buruh tani naik 0,27 persen. Setelah faktor inflasi perdesaan dikeluarkan (dari hitungan upah), ternyata secara riil masih naik. Ini ada indikasi tingkat kemiskinan perdesaan menurun pada April terhadap Maret," ucap Sasmito saat konfrensi pers di gedung BPS, Jakarta, Jumat (15/5/2015).

Sasmito melanjutkan, upah buruh bangunan secara riil naik dari Rp67.233 per hari pada Maret menjadi Rp67.253 per hari pada April. Sementara upah pembantu rumah tangga secara riil naik dari Rp293.173 per bulan menjadi Rp293.574 per bulan, atau naik 0,14 persen di April terhadap Maret.

"Itu mengindikasikan juga ada penurunan tingkat kemiskinan di perkotaan," cetusnya.

Adanya penaikan upah buruh tani secara nominal maupun riil, kata Sasmito, disebabkan panen raya yang terjadi pada April lalu. "Banyak orderan," ujarnya.

Namun, dia memprediksi kenaikan upah buruh tani baru akan terjadi kembali pada Juli dan Agustus mendatang. Pasalnya, panen raya baru akan terjadi pada bulan-bulan tersebut. "Upah buruh tani tergantung panen. Mungkin stabil di Mei ini, kecuali (buruh) di perkotaan (dengan kata lain buruh konstruksi)," tuturnya.

Dia memprediksi, upah buruh konstruksi pada Mei mendatang dan seterusnya akan semakin naik seiring dengan realisasi proyek-proyek infrastruktur pemerintah. Dia melihat proyek infrastruktur yang mungkin akan dimulai bulan ini akan berdampak pada penaikan kebutuhan akan buruh konstruksi.

"Infrastruktur sedang ramai. Jadi punya peluang positif di beberapa bulan ke depan," pungkasnya.


(WID)