Rupiah Terdepresiasi, Garuda Indonesia Tetap Untung

Husen Miftahudin    •    Jumat, 15 May 2015 18:37 WIB
garuda indonesia
Rupiah Terdepresiasi, Garuda Indonesia Tetap Untung
Garuda Indonesia (MI/Amiruddin Abdullah)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kondisi perekonomian Indonesia pada kuartal I-2015 sedang mengalami tekanan yang cukup besar. Dimulai dari penurunan nilai tukar mata uang (depresiasi) rupiah terhadal dolar Amerika Serikat (USD) yang menembus angka Rp13 ribu per USD hingga kenaikan minyak dunia yang menyebabkan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri menjadi semakin mahal.

Kondisi ini jelas sangat berdampak pada maskapai penerbangan nasional, salah satunya Garuda Indonesia. Pasalnya, BBM pesawat Garuda Indonesia yang notabene impor akan semakin mahal jika rupiah terus dikoyak USD.

"Itu pasti berpengaruh pada biaya, karena sebagian besar yang terkena biaya tingginya USD adalah biaya rental pesawat, biaya maintenance (perawatan pesawat), biaya avtur yang sebagian besar diimport dan segala macam," kata Direktur Utama Garuda Indonesia Arif Wibowo, ditemui di Kantor Garuda Indonesia Center, Kawasan Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Jumat (15/5/2015).

Ia mengaku, berdasarkan asumsi bisnis pihaknya telah memprediksi sebelumnya, sehingga kinerja perseroan menjadi tak terpuruk semakin dalam. Ia menjelaskan, asusmsi bisnis perseroan telah menetapkan Rp13 ribu per USD dengan biaya bahan bakar sebesar 70 sen per liter.

"Jadi untuk hari ini masih di bawah itu, tapi kita antisipasi ke depannya. Bagaimana pun pertumbuhan ekonomi akan dipengaruhi juga oleh depresiasi rupiah sehingga kita antisipasi dari sekarang," papar Arif.

Ia menambahkan, dengan beberapa asumsi bisnis yang dilakukan oleh perseroan, termasuk di dalamnya melakukan hedging dengan cross currency sebesar Rp2 triliun dalam tiga tahun dan menambah hedging menjadi 30 persen, maka dipastikan kinerja perseroan akan aman selama 2015 ini.

"Dengan melakukan cross currency dan menambahkan hedging yang tadinya 25 persen dan mulai masuk sampai 30 persen, rencana kita di 2015 ini akan aman sampai akhir tahun. Itu karena kita sudah antisipasi pergerakan rupiah dan bahan bakar," pungkas Arif.


(ABD)