Multatuli Abadi di Lebak

Rheza Ardiansyah    •    Sabtu, 16 May 2015 21:57 WIB
kultur
Multatuli Abadi di Lebak
Foto: Eduard Douwes Dekker (Multatuli) / dwarsliggers.thaumas.nl

“KANG Ubai, kami sedang dalam perjalanan ke sana. Acara klub bacanya dimulai jam berapa?”

Pesan singkat terkirim, namun tak berbalas. Rupanya, kiriman SMS itu tak pernah tiba ke telepon seluler Kang Ubai, orang yang saya maksud. Maklum, saat itu dia ada di Kampung Ciseel, sebuah dusun di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten. Sinyal di Ciseel memang tidak menentu: kadang ada, kadang tidak. Lebih sering tidak ada.

Selain sinyal ponsel, akses jalan ke Ciseel cukup sulit. Gara-gara kesulitan akses itulah ada kekhawatiran telat dan momen langka yang cuma ada sekali dalam dua minggu terlewat. Di Kampung Ciseel ada sebuah ikhtiar unik yang digagas Kang Ubai, panggilan Ubaidilah Muchtar, seorang guru di SMP Negeri Satu Atap 3 Ciseel.

Di pedalaman Kabupaten Lebak itu Ubai mengajar ngaji. Yang diampu Ubai bukan pengajian biasa. Lazimnya yang dibaca dalam pengajian adalah kitab suci. Tapi yang ini membawa novel tersohor berjudul Max Havelaar karangan Multatuli.


Foto: Metrotvnews.com / Rheza  Ardiansyah

Taman Baca Multatuli lahir pada 2009. Kala itu Ubai mendapat tugas mengajar sebagai PNS di Kampung Ciseel. Ia pun pindah ke dusun yang dihuni 75 kepala keluarga itu. Ia juga memboyong koleksi bacaannya.

Saat itu anak-anak Ciseel dibebaskan mengacak-acak rak buku Ubai. Rak-rak itu dititipkan di rumah ketua RT setempat. Pada 23 Maret 2010, Ubai memulai aktivitas lain di taman baca itu: membentuk reading group atau kelompok baca.

Kelompok baca Ubai berisi anak-anak kampung Ciseel dan sekitarnya. Secara rutin mereka mengaji novel Max Havelaar. Akhir April 2015, kelompok baca itu tepat berusia lima tahun. Tak ada perayaan khusus selain aktivitas rutin seperti biasanya. Pembacaan novel dimulai sekitar jam 4 sore hingga Maghrib tiba.

Dari Jakarta, perjalanan ke Kampung Ciseel bisa ditempuh sekitar enam jam. Kendaraan roda empat tak bisa masuk ke dusun itu. Jika membawa mobil, Anda bisa menitipkan di Dusun Cangkeuteuk. Perjalanan berlanjut menggunakan ojek sekitar 45 menit.

Jalan menuju Ciseel rusak berat. Selain sempit, jalan hanya menyisakan batu-batu lepas. Jalur yang dilewati menuju Ciseel adalah tepian lereng yang berbatasan langsung dengan jurang dalam menganga dan tepian sungai. Tapi pemandangan di sana luar biasa indah. Kalau senggang, Anda bisa menyempatkan meraup beningnya air di sungai.

Taman Baca Multatuli awalnya digelar saban sore, kini jadi tiap Senin atau Selasa sore. Itu pun sekali dalam dua minggu. Maklum, Ubai melakoninya sambil menempuh pendidikan magister di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.


Foto: Metrotvnews.com / Rheza  Ardiansyah

Kini Taman Baca tak lagi menumpang di rumah Pak RT. Setiap saat Taman Baca bisa dimasuki anak-anak Ciseel yang haus bacaan. Minat baca anak-anak Ciseel memang mencengangkan. Bahkan anak-anak yang belum bisa baca ikut hadir di pengajian Max Havelaar. Mereka ikut mengucap ulang kalimat-kalimat yang dibacakan Ubai.

“Itu apa tidak terlalu berat anak-anak baca buku seperti itu?”

“Saya kira berat atau tidak tergantung konteks kita orang dewasa. Ini membaca pelan-pelan, super lelet, maka tidak terlalu berat karena dijelaskan. Satu pertemuan dua jam paling hanya tiga halaman,” terang Ubai.

“Satu kali tamat membaca buku berapa lama?”

“Tahun pertama tamat 37 pertemuan (selama) 11 bulan, kemudian tahun kedua selama dua tahun lima bulan. Jadi pembacaan pertama 11 bulan, kemudian baca lagi dari awal, dua tahun lima bulan kemudian baru tamat. Pembacaan pertama Maret 2010 sampai Februari 2011, pembacaan kedua Mei 2011 sampai Agustus 2013," papar Ubai.

Saat ini pembacaan Max Havelaar di Taman Baca Multatuli sudah mencapai repetisi ketiga, sekitar halaman seratus sekian. Selain membaca Max Havelaar, anak-anak Ciseel diajari Ubai berbahasa Inggris. Mereka diperkenalkan berbagai kosakata baru. Mereka bahkan sudah bisa dan berani memperkenalkan diri dalam bahasa resmi internasional itu.

Satu lagi, mereka diajarkan menulis. Anak-anak dibekali buku tulis yang nantinya diisi dengan kegiatan harian dan gagasan masing-masing. “Bahkan ada yang lucu, ketika orang tua mereka berselisih paham, mereka menuliskannya. Mereka tidak perlu marah ketika ada pertengkaran, tapi bisa melalui tulisan," terang Ubai.

Maghrib tiba, kelas bubar. Anak-anak Ciseel berlanjut mengaji Alquran di masjid. Malam menghampiri Kampung Ciseel. Tiada gelap. Sejak dua tahun terakhir, Ciseel mengenal listrik. Sejak itu pula warga akrab dengan televisi dan berbagai tontonan.

Tontonan di televisi adalah perampok perkembangan minat baca anak. Sastrawan Goenawan Mohamad membeberkan alasan musuh utama minat baca itu. “Ya waktunya tidak ada untuk membaca. Boleh nonton televisi kalau berita. Tapi kalau 6 jam di depan televisi nonton sinetron, menurut saya itu tidak mencerdaskan bangsa,” ujar salah satu pendiri Majalah Tempo itu.

Rupanya anak-anak Ciseel tak kencanduan tontonan televisi. May, seorang anak Ciseel, mengaku hanya menghabiskan waktu setengah jam sehari di depan teve. Begitu juga Cecep yang cuma menonton sebelum tidur. Cecep juga rajin menyimak tayangan berita. “Dana APBD Ahok,” kata dia saat ditanya berita terbaru apa yang dia ingat.

Pengakuan anak-anak Ciseel diamini salah satu ketua RT di Ciseel, Uding Somantri. “Kalau sudah ada listrik banyak tontonan, tapi tidak mengganggu aktivitas baca di Multatuli,” ujar Uding. Uding memuji manfaat Taman Baca Multatuli, meskipun itu membuat bantuan tenaga dari anak untuk bertani di hutan dan ladang berkurang.

Ubai punya analisa berbeda. “Yang dirasakan tidak terlalu berat karena fondasi anak-anak sudah ada sejak 2009. Jadi mereka basic-nya kuat. Enam bulan ada televisi mereka senang sekali. Tapi Taman Baca Multatuli tetap ramai.”

Ubai dan tokoh Dusun Ciseel juga mengarahkan anak-anak ke tontonan yang baik. Mereka menggelar layar tancap. Kain putih polos dibentangkan melintang di jalan. Pengendara motor yang melintas harus merunduk. Mereka maklum dan paham kondisi itu.

Kerumunan anak-anak duduk di batu-batu pinggir jalan. Jujun, salah satunya, bangga memperlihatkan bekas luka di pelipis. Ia jatuh di masjid ketika kecil. Padahal, saat ini umurnya mungkin empat atau enam tahun. Jujun bahkan tak yakin dengan usianya.


Foto: Metrotvnews.com / Rheza  Ardiansyah

Jujun pun tak malu ditertawakan teman-temannya ketika berbicara bahasa Inggris. Ia merelakan diri berdiri di hadapan anak-anak lain. Dengan penuturan yang samar, ia berucap “My name is Jujun”.

Malam itu film "Lima Elang" diputar. Tak hanya anak-anak, orang tua mereka pun ikut menonton dari teras depan rumah. Gelak tawa pecah ketika muncul adegan kocak. Komentar-komentar singkat terlontar setelah alur kisah mengalir. Perlahan-lahan jumlah penonton menipis. Giliran Ciseel terlelap memeluk malam.

Malam itu Ubai menginap di ruang perpustakaan Taman Baca Multatuli. Itu ia lakoni tiap kali mengunjungi Ciseel. Rumah Ubai sebenarnya di Depok, Jawa Barat. Di sana ia tinggal bersama teman kuliah ketika menempuh pendidikan sarjana yang kini jadi istrinya.

Sebelum tidur, Ubai memaparkan secara singkat isi novel legendaris tersebut. Dia hafal di bab berapa sebuah kisah ditulis, di halaman mana penjelasan tentang itu dipaparkan.

Max Havelaar berkisah tentang seorang pria bernama Batavus Droogstoppel atau Batavus si gersang hati. Ia seorang saudagar kopi di era kolonial. Ia ingin dibuatkan buku tentang pelelangan kopi oleh perusahaan dagang Belanda. Ludwig Stern diminta menuliskannya.

Eeh Stern malah menulis tentang hal lain. Mulai bab lima novel tersebut, Stern mengisahkan tentang seorang asisten residen atau Bupati Lebak bernama Max Havelaar. Max Havelaar sebenarnya Multatuli alias Eduard Douwes Dekker sendiri.

Kala itu masyarakat Lebak ditindas dua kekuatan sekaligus. Selain diwajibkan aturan tanam paksa atau Cultuurstelsel oleh pemerintah kolonial Belanda, warga Lebak tertindas kekuasaan setempat. Di akhir abad ke-19 itu Lebak diperintah Adipati Karta Nata Nagara.

Di salah satu bagian, Stern mengisahkan ketertarikan sang Adipati terhadap kerbau milik warga. Maka mau tak mau kerbau itu harus direbut dari pemilik aslinya. Max Havelaar, meski berasal dari pihak kolonial, menentang penindasan semacam itu.

Stern juga menyisipkan kisah romantik-tragis Saijah-Adinda. Cerita Saijah-Adinda disebut-sebut sebagai Laila-Majnun-nya Lebak tempo dulu atau Romeo-Juliet-nya era kolonial. Di akhir bab novel, Multatuli yang berarti “Saya telah banyak menderita”, membuka identitas aslinya. Jadi, dalam novel Max Havelaar seakan-akan ada tiga narator sekaligus: Batavus, Stern, dan Douwes Dekker si penulis asli. Indah bukan?

Rupanya, kelompok baca semacam Taman Baca Multatuli ada di banyak tempat. Ubai menerangkan, di Kendal, Jawa Tengah, ada komunitas Pondok Maos Guyub membaca Old Man And The Sea (karangan Ernest Hemmingway) dan Ronggeng Dukuh Raruk (Ahmad Tohari). Lalu di Jember, Jawa Timur, komunitas Tikungan membaca Gadis Jeruk (Jostein Garner).

Di Kediri, Jawa Timur, komunitas Jambu membaca Jalan Raya Pos Jalan Daendels (Pramoedya Ananta Toer); di Serang, Banten, komunitas Rumah Katak membaca Laskar Pelangi (Andrea Hirata); di Yogyakarta, komunitas Indonesia Buku membaca Kitab Primbon Jogja (Beta Lejemur Adamakna); di Bandung, komunitas Ultimus membaca Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer); di Cikarang, Bekasi, solidaritas.net membaca Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer); dan di Facebook, komunitas reading group yang dimoderatori Tanzil Hernadi membaca Ibunda (Maxim Gorky).

Ubai meyakini, kelompok baca di Ciseel bukan hanya untuk meningkatkan minat baca. Lebih dari itu, ada sesuatu yang ingin ia tanamkan di dalam benak anak-anak di Ciseel.

“Minimal mereka mencontoh tiga sifat khas Multatuli. Pertama, peka dengan ketidakadilan. Kedua, mereka tahu jika ketidakadilan terjadi mereka harus berbuat apa. Dan ketiga, dia pandai menulis. Nah anak-anak di sini tentu tidak harus seperti Multatuli. Tapi minimal nilai-nilai itu bisa menjiwai kehidupan mereka. Tidak mengambil hak orang lain, berkuasa tidak disalahgunakan, amanat harus disampaikan, dan tidak boleh korupsi. Di (novel) Multatuli ada kata ‘korupsi’,” terang Ubai panjang lebar.


Foto: Metrotvnews.com / Rheza  Ardiansyah


(AWP)