Polisi Tahan Orang Tua 'Usir' Anak

Budi Ernanto    •    Minggu, 17 May 2015 15:58 WIB
penelantaran anak
Polisi Tahan Orang Tua 'Usir' Anak
Tersangka pengusiran anak NS (kiri) dan UP (kanan). (Metrotvnews.com/Husen Miftahudin)

Metrotvnews.com, Jakarta: Penyidik Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya akhirnya menahan UP dan NS, orang tua yang diduga menelantarkan anak atas kepemilikan narkoba jenis sabu sebanyak 0,58 gram. Keduanya ditahan mulai Minggu (17/5) setelah penyidik merangkumkan pemeriksaan selama 3x24 jam.

Diresnarkoba Polda Metro Jaya Kombes Eko Daniyanto mengatakan UP dan NS mengakui bahwa mereka memiliki dan memakai sabu.

“Mereka mengonsumsi sedikit-sedikit, hanya per 0,5 gram saja sejak enam bulan yang lalu. Mereka dapat dari seseorang berinisial O di Jakarta,” kata Eko, Minggu (17/5/2015).

Meski keduanya mengaku telah mengonsumsi sabu, hasil tes urin dan tes darah belum menyatakan UP dan NS positif narkoba. Eko mengatakan tes urin dan tes darah baru bisa dilakukan pada Senin (18/5) karena barang bukti baru muncul pada Jumat (15/5) malam. Sementara Pusat Kedokteran dan Kesehatan Mabes Polri libur pada akhir pekan.

Atas kepemilikan narkoba, UP dan NS bisa diancam dengan Pasal 112 dan Pasal 113 subsider Pasal 132 UU 35/2009 tentang Narkotika dengan hukuman penjara minimal lima tahun dan maksimal 20 tahun.

Eko menambahkan saat ini pihaknya belum menelusuri apakah kedua orang tua dengan lima anak itu terlibat sindikat narkoba. Pasalnya, kasus narkoba bukan lah perkara utamanya. Begitu pula dengan penelusuran rekening, menurut Eko itu dilakukan jika keduanya diduga juga menjadi pengedar.

“Kami hanya menyelidiki soal kepemilikan, perkara utamanya kan soal penelantaran anak,” imbuh Eko. 

Sebelumnya, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Anton Charliyan mengatakan tindakan penelantaran anak yang dilakukan UP dan NS diduga karena keduanya menggunakan narkoba. Anton menyarankan agar keduanya bisa mendapat rehabilitasi agar tak kembali berlaku kejam kepada lima anak mereka. 

“Orang tua harus sembuh terlebih dahulu, nanti bisa-bisa anaknya diusir lagi,” kata Anton.


(MEL)