Desy Ratnasari: D, Anak yang Diusir Orangtuanya Punya Sifat Tempramental

Githa Farahdina    •    Senin, 18 May 2015 12:44 WIB
penelantaran anak
Desy Ratnasari: D, Anak yang Diusir Orangtuanya Punya Sifat Tempramental
Desy Ratnasari saat menjadi pembicara diskusi di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta, Senin (18/5/2015). Foto: Githa Farahdina/Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Jakarta: Anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi PAN Desy Ratnasari mengunjungi langsung rumah D dan empat saudaranya tinggal setelah ditelantarkan. Desy yang berlatar belakang psikolog ini mencoba melakukan observasi.

Dua saudara D yang berusia 3 dan 4 tahun lebih bersahabat dan gampang menerima Desy. Sementara saudara D yang kembar berusia 9 tahun agak sulit disentuh dan butuh waktu sampai bisa bercerita lancar.

Namun D, jelas Desy, termasuk anak yang mudah marah. Saat bermain Lego, D yang tak bisa menuntaskan permainan bongkar pasang itu kemudian melempar mainannya dan marah. Di sinilah peran orangtua menjadi penting. D diusir orangtua dari rumahnya selama satu bulan. Orangtua berdalih itu merupakan hukuman untuk D.

"Perilaku seperti ini harus dihadapi dengan orangtua yang sehat secara mental dan fisik. Untuk memberitahu perilaku A salah, B benar. Harus ada bimbingan. Yang tidak sehat akan sulit. Jangankan membimbing anak, mengurus diri sendiri saja tidak bisa," tegas Desy.

Kasus yang menimpa D dan empat saudaranya menjadi pembelajaran penting bagi negara. Negara harus hadir untuk melindungi semua anak telantar.

"Negara bertanggung jawab menyelenggarakan perlindungan anak. Ini hanya sedikit kasus. Masih banyak anak-anak lain yang merasakan hal sama, tapi tidak terekspos," tambahnya.

Selain berkunjung, Desy juga melakukan fungsi pengawasan bagaimana Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di lapangan. Desy ingin melihat langsung bagaimana anak-anak telantar ini diperlakukan. Ia juga ingin melihat sejauh mana anak-anak ini diberikan konseling sesuai dengan kebutuhan mereka.

"Ini harus terus. Jangan cuma pas lagi rame. Ini sudah dinyatakan positif narkoba, ada aspek hukum, anak-anak ini harus diasuh oleh siapa. Kalau menurut UU, harus kepada wali-nya. Karena terkait keluarga, belum tentu mereka merasa nyaman," terangnya.

Dalam kasus ini, tambah Desy, orangtua harus memiliki hubungan baik dengan keluarga. Hal ini ditujukan agar anak-anak terbiasa dengan keluarga besarnya dan bisa dititipkan ketika masalah semacam ini muncul.

"Jangan setelah menikah menjadi individualistis agar ketika ada masalah ke mana anaknya akan diasuh. Tapi, negara harus hadir di sini. Tugas negara menghasilkan ituu karena mereka penerus bangsa," tegas Desy.


(KRI)