Merasa Difitnah, SBY Desak Menteri ESDM Beri Klarifikasi

Pelangi Karismakristi    •    Selasa, 19 May 2015 01:12 WIB
mafia migas
Merasa Difitnah, SBY Desak Menteri ESDM Beri Klarifikasi

Metrotvnews.com, Jakarta: Hadirnya Presiden Jokowi dalam Kongres Partai Demokrat di Surabaya pekan lalu, dipandang mendatangkan kesejukan dalam politik nasional. Sayangnya kesejukan itu kini terganggu. 

Pangkal masalahnya adalah pernyataan Menteri ESDM Sudirman Said bahwa pemberantasan mafia migas selalu terhenti di meja SBY. Atas pernyataan yang disiarkan media massa tersebut, SBY merasa difitnah.

"Saya harap Pak Menteri ESDM melakukan klarifikasi apa yang dimaksud," tulis SBY dalam twitter dan facebook-nya, Senin (18/5/2015) tengah malam.

Berikut kutipan lengkap dari kegusaran SBY terhadap Sudirman Said yang tak urung menyeret Presiden Jokowi selaku atasan langsung sang menteri;

Saya amat terkejut dengan pernyataan Menteri ESDM Sudirman Said yang menyerang dan mendiskreditkan saya, ketika menjadi Presiden dulu.

Sudirman Said, melalui berita mengatakan bahwa pemberantasan Mafia Migas selalu berhenti di Meja SBY.

Saya harap Pak Menteri ESDM melakukan klarifikasi apa yang dimaksud, karena justru saya ingin penyimpangan apa pun diberantas.

Saya bahkan membentuk Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, yang hakikatnya memberantas kejahatan dan penyimpangan apapun.

Tidak ada yang mengusulkan ke saya agar Petral dibubarkan. Saya ulangi, tidak ada. Kalau ada pasti sudah saya tanggapi secara serius.

Saya tertib dalam manajemen pemerintahan. Isu serius seperti mafia migas, pasti saya respons. Tidak mungkin berhenti di meja saya.

Hari ini saya berbicara dengan mantan Wapres Boediono dan 5 mantan Menteri terkait, apakah memang pernah ada usulan pembubaran Petral.

Semua menjawab tidak pernah ada. Termasuk tidak pernah ada 3 surat yang katanya dilayangkan oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan waktu itu.

Berita ini saya pandang sudah termasuk fitnah dan pencemaran nama baik. Saya masih menunggu klarifikasi dari pihak-pihak yang menyebarkan.

Mungkin tidak mudah menghadapi yang tengah berkuasa sekarang ini. Tetapi, kebenaran adalah "power" yang masih saya miliki.

Selama jadi Presiden, saya tidak pernah mengintervensi BUMN manapun. Termasuk urusan tender dan bisnisnya. Yang penting jangan korupsi.

Saya juga berpesan agar semua BUMN berkembang baik, bayar pajak dan deviden, tidak ada korupsi dan jangan pula jadi sapi perah.

Sebenarnya saya mendukung upaya pemerintahan Presiden Jokowi untuk lakukan penertiban, karena setiap Presiden hakikatnya juga begitu.

Tetapi, kenapa harus terus menyalahkan pemimpin dan pemerintahan? Popularitas bisa dibangun tanpa menjelekkan pihak lain.

Tuduhan dan fitnah yang disampaikan Menteri ESDM & pihak-pihak tertentu sulit saya terima. Rakyat Indonesia, doakan saya kuat menghadapi.

 




(LHE)