Waspadai Bumerang Swasembada

Dero Iqbal Mahendra    •    Selasa, 19 May 2015 11:13 WIB
swasembada beras
Waspadai Bumerang Swasembada
Ilustrasi. MI/Ramdani

Metrotvnews.com, Jakarta: Target pemerintah untuk mencapai swasembada pangan terutama beras mendapatkan apresiasi yang sangat baik dari semua kalangan. Meski begitu, pengamat politik pangan Andi Sinulingga mengingatkan pemerintah untuk tidak terbuai dengan apa yang akan dicapai dari swasembada pangan tersebut. Sebab pemerintah harus memikirkan serapan surplus beras yang akan terjadi bila swasembada, agar tidak merugikan para petani.

"Pemerintah juga harus berhati-hati kedepannya bila memang terjadi surplus beras, sebab begitu surplus maka harga gabah di petani menjadi jatuh dan petani kita menderita. Oleh sebab itu, bila memang nantinya akan menjadi swasembada maka pemerintah harus juga memikirkan mengenai serapan dari beras tersebut," ungkap Andi di Jakarta, seperti dikutip Selasa (19/5/2015).

Meski begitu, untuk saat ini dia memandang bahwa pemerintah tidak perlu melakukan pencitraan dengan mengatakan tidak akan melakukan impor beras, sebab saat ini yang terpenting adalah bagaimana ketersedian pasokan di lapangan.

Kalaupun pemerintah harus mengimpor tentu harus dilakukan impor, tetapi semangatnya adalah tetap untuk mencapai swasembada beras dalam waktu tiga tahun. Dengan adanya keinginan impor tersebut maka akan dapat memaksa para pedagang untuk mengeluarkan stok beras mereka yang mereka simpan.

"Oleh sebab itu dalam proses melakukan impor dalam konteks ketahanan pangan pemerintah tidak perlu berisik dengan meminta izin ini dan persetujuan DPR dan banyak macam-macamnya. Kalau berkaitan dengan soal pangan seharusnya jauh lebih simple pola manjemennya dan tidak perlu diomong-omongin. Sebagai pedagang tentu kita mengetahui kemampuan Bulog sehingga mereka bisa memainkan harga," ungkap Andi.

Dalam kesempatan yang sama Dekan Institut Pertanian Bogor, Arif Satria mengungkapkan kesepahamannya dengan risiko jatuhnya harga gabah begitu terjadinya swasembada. Dijelaskan dalam penelitiannya yang dilakukan yang mengkaji nilai tukar petani dari tahun 1970 hingga 1984.

"Saya pernah melakukan penelitian yang mengkaji nilai tukar petani sejak tahun 1970 hingga 1984, dimana pada titik tahun 1984 dimana tercapainya swasembada beras itu menjadi titik terendah dari nilai tukar petani. Oleh sebab itu kita harus mulai berhati-hati jangan sampai ketika kita mencapai swasembada beras dan surplus membuat nilai tukar petani malah anjlok dan ini yang tidak di antisipasi," cetus Arif.


(WID)

Miryam Akui Mengarang Isi BAP Perkara KTP-el

Miryam Akui Mengarang Isi BAP Perkara KTP-el

13 hours Ago

Politikus Hanura Miryam S Haryani mengaku mencabut seluruh isi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) d…

BERITA LAINNYA