Ketua Komisi VIII Dukung Usulan Pajang Wajah Pelanggan PSK di Medsos

Al Abrar    •    Rabu, 20 May 2015 16:22 WIB
prostitusi online
Ketua Komisi VIII Dukung Usulan Pajang Wajah Pelanggan PSK di Medsos
ketua Komisi VIII Saleh Daulay--M Irfan

Metrotvnews.com, Jakarta: Usulan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mempublis wajah pengguna jasa prostitusi ke media sosial (medsos), mendapatkan dukungan. Ketua Komisi VIII Saleh Daulay beranggapan usulan tersebut diyakini mampu memberantas prostitusi.

"Ini semangat yang baik dalam memberantas prostitusi," kata ketua Komisi VIII Saleh Daulay saat dihubungi Metrotvnews.com, di Jakarta, Rabu (20/5/2015).

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini mengaku langkah memposting para pengguna jasa prostitusi ke medsos, sebagai bentuk hukuman moral. Sebab hingga saat ini belum ada Undang-undang yang dapat mempidanakan pengguna Jasa Pekerja Seks Komersial (PSK) dan PSK.

"Ini kan juga bisa sebagai bentuk hukuman moral, asal pelaku baik pengguna maupun PSK-nya ditangkap di tempat prostitusi," tambahnya.

Selain itu juga Saleh mengusulkan kepada Menteri Khofifah berhati-hati dalam menjalankan programnya tersebut. Pasalnya selama ini banyak pria dan wanita melakukan hubungan tanpa dilengkapi surat nikah atau nikah sirih. "Tapi banyak juga di tempat lain, ternyata istri siri, Naah kan tidak adil kalau dipublish juga," tukasnya.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa ingin Indonesia meniru cara kerja pemerintah Swedia dalam menangani kasus prostitusi. Khofifah menuturkan, Swedia mampu memberantas prostitusi karena adanya kesetaraan perlakuan bagi pelaku prostitusi.

"Ada pelajaran baik dari Swedia, yaitu ada kesetaran perlakuan kepada customer kena hukum, penyedia jasa seks komersilnya kena hukum dan mucikarinya. Jadi di sana sama-sama dapat punishment," kata Menteri Khofifah Selasa, (19/5/2015).

Khofifah menambahkan, pemberantasan prostitusi di Swedia efektif karena pemerintahnya menggunakan sanksi sosial yang membuat jera pelanggan jasa prostitusi.

"Bahkan customer di sana kalau sudah diketahui, mereka tidak hanya didenda dan dipenjara, tapi juga wajahnya bisa dipublis di berbagai sosial media (medsos). Itu sosial punishment yang saya rasa efektif," jelasnya.


(YDH)