Harkitnas, Menteri Puan Ingatkan Perjuangan Bung Karno

K. Yudha Wirakusuma    •    Rabu, 20 May 2015 18:25 WIB
harkitnas
Harkitnas, Menteri Puan Ingatkan Perjuangan Bung Karno
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani--Antara/Sigid Kurniawan

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, memperingati Hari Kebangkitan Nasional di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Dalam dalam pidatonya Puan mengingatkan perjuangan Soekarno dan filosofi Revolusi Mental.

"Dahulu Presiden Bung Karno sudah mengingatkan kita melalui pidatonya 'perjuangan ku lebih mudah, tapi perjuanganmu lebih sulit, karena melawan bangsa sendiri'. Apa yang dikatakan beliau sesungguhnya baru kita rasakan saat ini," kata Puan Maharani di Hari Kebangkitan Nasional di Lapangan Pancasila, Kota Ende, Kabupaten Ende, NTT, Rabu (20/5/2015).

Makna sepenggal kalimat Bung Karno yang berarti perjuangan melawan bangsa sendiri dapat dilihat dengan tingginya angka kesenjangan pendidikan, ekonomi, dan sosial. Sehingga menciptakan pengelompokan masyarakat yang merasa nyaman pada zonanya masing-masing. "Hal itu telah menggerus semangat gotong royong dalam politik, pasar bebas, liberalisasi pertumbuhan ekonomi semata," ujarnya.

Peringatan ini seharusnya menjadikan masyarakat Indonesia mawas diri. Hal itu menimbulkan pertanyaan yang tidak hanya ditujukan kepada pihak eksekutif. "Hal ini harus menjadi pertanyaan bagi kita semua, bukan hanya kami saja yang menjawab, tapi seluruh masyarakat dengan semangat gotong royong," paparnya.

Permasalahan yang dihadapi pemerintah pusat dalam membangun infrastruktur tidak mudah. Pemerintah sendiri telah menetapkan visi misi strategi pembangunan.

"Indonesia yang berdaulat mandiri harus berlandaskan semangat gotong royong oleh karena itu dengan jalan Trisakti tiga norma dalam pembangunan infrastruktur, pembangunan pengawasan ketimpangan kelompok masyarakat bawah, pembangunan yang menjadi daya dukung lingkungan tidak bisa dipisahkan," terangnya.

Semua itu, lanjutnya, sudah terangkum dalam RPJM 2015-2019 sehingga dapat mewujudkan bangsa Indonesia yang berdaulat, mandiri dengan kepribadian berlandaskan semangat gotong royong.

Puan menuturkan sudah sejak lama Bung Karno berpikir tentang revolusi mental, terutama saat era perjuangan kemerdekaan. Perjuangan tersebut sempat mandek lantaran beberapa faktor.

"Faktor pertama terjadi penurunan semangat jiwa revolusioner, baik rakyat maupun pemimpin nasional dulu, lantaran masih melakukan warisan kolonial meniru pemikiran penjajah. Sehingga masih ada penyelewangan di beberapa sektor yang dipicu sikap rendah diri dan tidak percaya akan kemampuan Indonesia," paparnya.

Puan mengatakan segala rintangan harus dihadapi dengan revolusi mental. Esensi revolusi mental mengubah pola pikir dan pandangan untuk gerakan kehidupan yang baru. "Sehingga hal itu harus dilakukan dari diri sendiri dengan semangat optimis kreatif," tandasnya.

Puan, untuk pertama kalinya menginjak tanah yang pernah menjadi tempat pengasingan Soekarno di Kabupaten Ende, NTT. Selaku Menko PMK, Puan melihat antusiasme masyarakat akan sosok Sang Proklamator. Saat peringatan Harkitnas inilah muncul wacana menjadikan Ende sebagai Kota Soekarno.

“Alhamdulillah ini pertama kali saya datang menginjak Kota Ende, dahulu sudah beberapa kali direncanakan tetapi selalu gagal dan baru kali akhirnya saya bisa sampai di Kota Ende," paparnya.

Puan membayangkan saat Bung Karno menjadi tahanan politik pemerintah Belanda. Semangat dan aura perjuangan Soekarno masih bisa dirasakan.


(YDH)

KPK Bakal Pelajari Pernyataan Miryam

KPK Bakal Pelajari Pernyataan Miryam

1 day Ago

Miryam S. Haryani yang menyebut ada pertemuan anggota Komisi III DPR dengan pejabat KPK setingk…

BERITA LAINNYA