Jalan Termudah Golkar agar Bisa Ikut Pilkada: Islah

Yogi Bayu Aji    •    Kamis, 21 May 2015 15:05 WIB
golkar
Jalan Termudah Golkar agar Bisa Ikut Pilkada: Islah
Kepala Biro Humas dan Kerjasama Luar Negeri Kemenkumham Ferdinand Siagian (kanan). Foto: Al Abrar/Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly menyarankan dua kubu di Golkar, Agung Laksono dan Aburizal Bakrie, berdamai. Hal itu agar Golkar bisa ikut serta dalam pilkada serentak 2015 yang digelar akhir tahun ini.

Islah menjadi jalan yang paling memungkinkan agar Golkar agar bisa ikut Pilkada. "Menteri Hukum dan HAM menyarankan islah, sehingga Golkar bisa ikut pilkada," kata Kepala Biro Humas dan Kerjasama Luar Negeri (KLN) Kemenkumham Ferdinand Siagian di Kantornya, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (21/5/2015).

Menurut Ferdinand, hal ini seperti yang sudah pertimbangan yang ada di Mahkamah Partai Golkar. "Kedua kubu diminta islah," tekan dia.

Kendati demikian, dia menegaskan Kementerian akan tetap menempuh jalur banding perhadap putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta. Kementerian yakin, Surat Keputusan Menkumham No: M. hh-01.AH.11.01 tahun 2015 tanggal pengesahan perubahan AD/ART dan susunan kepengurusan DPP Golkar sudah sesuai ketentuan.

Saat ini, kata dia, Kemenkumham sedang mengkaji putusan PTUN yang keluar Senin 18 Mei kemarin. Mereka akan meminta pertimbangan ahli hukum dan tata negara untuk melihat putusan tersebut.

"Apakah putusan tersebut telah diputus secara adil dan mencermati beberapa faktor, yakni apakah putusan tersebut memutuskan dari apa yang diminta atau melebihi apa yang diminta. Serta, apakah putusan itu diputus secara adil dan imparsial," pungkas Ferdinand.

Seperti diketahui konflik yang tak berujung membuat kader dan Partai Golkar terancam tak bisa bersaing dalam Pilkada nanti. Kedua kubu masih berseteru untuk menjadi kepengurusan yang sah. Saat ini sengketa perebutan kepengurusan itu masih di pengadilan tingkat banding. Tahapan Pilkada serentak akan dimulai Juli atau dua bulan lagi.


(KRI)