Indonesia Digital Network: Berlari Mengejar Ketertinggalan

Insaf Albert Tarigan    •    Kamis, 21 May 2015 19:55 WIB
telekomunikasi
Indonesia Digital Network: Berlari Mengejar Ketertinggalan
Direktur Network Telkom Abdus Somad Arief menyampaikan presentasi dalam diskusi di Jakarta.

Metrotvnews.com, Jakarta: Tiap kali Akamai merilis laporan akhir tahun mengenai kecepatan internet di seluruh dunia, kita selalu mengelus dada. Kondisi kita termasuk jauh tertinggal di kawasan Asia Pasifik. Tahun lalu, misalnya, kita berada di posisi 118 dari 119 negara.

Memang, kondisi ini dipengaruhi banyak hal, tak terkecuali cara pandang pejabat kita terhadap kemendesakan mempercepat koneksi internet. Anda mungkin masih ingat, pada 30 Januari 2014, Tifatul Sembiring yang ketika itu menjabat Menteri Komunikasi dan Informatika melontarkan pernyataan ini di Twitter: Tweeps Budiman, memangnya kalau internetnya cepat mau dipakai buat apa?...:D *MauTauBanget*

Pertanyaan itu ada benarnya. Kita sering mendengar orang bicara tentang "menjadi tuan rumah di negeri sendiri". Siapkah kita memanfaatkan kecepatan internet yang tinggi semaksimal mungkin, atau kita hanya akan menggelar karpet merah untuk raksasa-raksasa dunia, semacam Google dan Facebook?.

Perusahaan dalam negeri, termasuk Badan Usaha Milik Negara tampaknya sangat menyadari pentingnya menyiapkan sumber daya manusia di dalam negeri. Ambil contoh beberapa operator telekomunikasi yang rajin membiayai perusahaan rintisan digital (startup) dalam beberapa tahun terakhir. Terlepas dari hasil akhirnya, kita harus mengapresiasi usaha itu.

Para pengusaha muda dan yang mapan juga mulai serius mengembangkan e-commerce karena sudah pasti bidang usaha ini akan maju seiring meningkatnya penetrasi ponsel pintar. Katakanlah kita sudah siap bersaing sekarang ini, lalu bagaimana dengan infrastrukturnya?

Saat ini, pemerintah melalui Telkom sedang giat membangun apa yang mereka sebut sebagai Indonesia Digital Network (IDN). Program ini bertujuan untuk menghadirkan layanan internet berkecepatan tinggi untuk seluruh wilayah Indonesia.

Ketika diluncurkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun lalu, pemerintah menyebutkan, jaringan pita lebar setidaknya sudah mencakup 30 persen rumah tangga di Indonesia pada tahun ini atau setara 20 juta pelanggan. Apakah target itu akan tercapai atau tidak, belum bisa ditentukan saat ini.

Namun yang jelas, menurut Direktur Network Telkom Abdus Somad Arief, Telkom sudah membangun jaringan backbone sepanjang 77.000 kilometer (km) kabel serat optik dan 13,2 juta homepass.

"Homepass artinya rumah yang sudah dilalui kabel serat optik. Sampai akhir tahun ini, kita akan tambah 5 juta homepass, sehingga menjadi 18,2 juta," katanya ketika menjadi pembicara dalam diskusi "Broadband Sebagai Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Masa Depan" di Jakarta, hari ini, Kamis (21/5/2015).

Dia memaparkan, pekan lalu Presiden Joko Widodo telah meresmikan jaringan yang menghubungkan Sulawesi dan Papua, dan pada akhir tahun ini proyek tersebut akan berlanjut di wilayah Aceh.

Abdus Samad mengatakan, beberapa titik jaringan akan terhubung langsung dengan jaringan internasional, salah satunya kabel optik di Dumai dan Manado yang terhubung dengan Timur Tengah, Eropa dan Amerika Serikat. "Diharapkan selesai awal 2017," katanya.

Khusus untuk konsumen rumah tangga, Telkom menyediakan layanan IndiHome Fiber, yang terdiri-dari paket internet, televisi, dan telepon.

Untuk menyukseskan program ini, pemerintah tak tinggal diam. Dirjen Sumberdaya Perangkat Pos dan Informasi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Muhammad Budi Setiawan, mengatakan, pemerintah sudah mengeluarkan Broadband Plan Indonesia (BPI) pada Oktober 2014. Pemerintah berencana menginvestasikan dana sebesar Rp278 triliun.

Jika semua berjalan lancar, pemerintah berharap sebanyak 71 persen wilayan perkotaan sudah bisa menikmati kecepatan internet hingga 20Mbps pada tahun 2019 nanti. Pada saat yang sama, 49 persen rumah tangga desa bisa mengakses internet hingga 10Mbps.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Masyarakat Telekomunikasi Indonesia, Kristiono, mengaku mendukung rencana pemerintah untuk membangun pita lebar di Indonesia. "Syukur-syukur kalau rencana itu sudah cocok dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah pemerintah," katanya.

Menariknya, dia juga mengusulkan agar Indonesia punya Chief Information Officer. Tujuannya, untuk memastikan semua hal yang terkait dengan pembangunan teknologi bisa berjalan dengan baik.

"Indonesia ini kan juga organisasi, pemimpinnya Presiden," katanya. "CIO itu biasanya second man, kalau presiden terlalu sibuk, jadi yang pas wapres."

Dia juga mengusulkan agar pemerintah dan DPR merevisi UU Telekomunikasi tahun 1999 karena dianggap ketinggalan zaman.

Jika layanan broadband sudah benar-benar sampai ke sebagian besar rumah tangga, akan menarik melihat bagaimana masyarakat dan juga pemerintah memanfaatkannya untuk hal-hal yang menguntungkan. Kita tunggu saja.


(ABE)

KPK Bakal Pelajari Pernyataan Miryam

KPK Bakal Pelajari Pernyataan Miryam

1 day Ago

Miryam S. Haryani yang menyebut ada pertemuan anggota Komisi III DPR dengan pejabat KPK setingk…

BERITA LAINNYA