Daya Serap Bulog Rendah, Pemerintah Diminta Revisi Harga Beli

Angga Bratadharma    •    Sabtu, 23 May 2015 12:04 WIB
bulog
Daya Serap Bulog Rendah, Pemerintah Diminta Revisi Harga Beli
Ilustrasi (MI/PANCA SYURKANI)

Metrotvnews.com, Jakarta: Terbatasnya kemampuan Bulog menyerap hasil panen petani merupakan hal yang serius bagi Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi NasDem Fadholi. Apalagi, di tengah situasi lonjakan harga beras di tingkat konsumen saat ini. Karena keterbatasan itu, Fadholi mendesak perlunya revisi Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Menurutnya, kecenderungan petani yang lebih memilih menjual hasil panennya ke pihak swasta disebabkan harga beli Bulog belum memberi keuntungan yang layak. Sehingga, lanjut Fadholi, pemerintah perlu mempertimbangkan untuk merevisi kembali HPP yang ditetapkan oleh Inpres Nomor 5 Tahun 2015.

"Banyak variable yang harus diselaraskan untuk revisi HPP, tidak hanya cost produksi. Produktivitas lahan dan keuntungan petani juga harus dipertimbangkan," tegas Fadholi, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Sabtu (23/5/2015).

Fadholi mengatakan, Harga HPP beras dan gabah yang diterapkan Bulog mungkin menguntungkan bagi petani yang punya satu hektare (ha) lahan dengan produksi delapan ton sampai sembilan ton beras. Tapi, sambungnya, tidak demikian halnya bagi yang hanya mampu memproduksi lima ton beras.

Dalam resesnya di Semarang kemarin, Fadholi mengakui telah menjumpai sejumlah kelompok tani yang mengeluhkan rendahnya harga beli Bulog di saat panen. Sementara, ongkos produksi yang dikeluarkan petani meningkat.

Di sisi lain, adanya wacana impor jelang bulan Ramadan, menurut Fadholi seharusnya tak perlu dikhawatirkan. "Hampir di banyak tempat di Indonesia saat ini sedang panen, yang terpenting bagaimana pemerintah dapat menyerap hasil panen," tandasnya.

Namun, kenyataannya, kenaikan harga beras saat ini, ternyata tidak sebanding dengan lonjakan peningkatan harga beras di pasar. Dalam kondisi seperti inilah, terang Fadholi, peran penting Bulog untuk menstabilkan harga. Selain itu, ia mengingatkan perlunya peran distribusi Bulog, untuk mengantisipasi pihak yang menimbun beras

Fadholi menegaskan, Bulog semestinya menerapkan sistem sirkulasi stok yang dapat menjamin kualitas beras tetap baik. Hal ini dimaksudkan agar beras Bulog dapat dikonsumsi masyarakat. "Yang ada di gudang jangan terlalu lama, maksimal dari hasil dua musim panen. Di saat panen ketiga maka stok dari panen pertama yang dilepas ke pasar," paparnya.

Fadholi juga menekankan perlunya pemerintah untuk melindungi harga petani. "Bulog membeli hasil panen dengan harga yang tinggi dari petani dan menjualnya dengan harga murah di tingkat konsumen, dengan begitu harga petani terlindungi," ujarnya.

Politisi NasDem kelahiran Salatiga ini juga menyampaikan bahwa PR pemerintah bukan hanya soal revisi HPP untuk dapat mencapai kemandirian pangan. Menurutnya pemerintah perlu juga mendorong peningkatan produksi pangan.

Bantuan alat dan mesin pertanian, perbaikan irigasi, teknologi, dan bibit disebutnya penting untuk mendorong produktivitas pertanian. Selain itu, ia juga mengutarakan pentingnya menumbuhkan kembali semangat pemuda untuk mau bertani.


(ABD)