HIPPI Desak Pemerintah Tuntaskan Kasus Beras Sintetis

Antara    •    Sabtu, 23 May 2015 16:25 WIB
kasus beras plastik
HIPPI Desak Pemerintah Tuntaskan Kasus Beras Sintetis
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

Metrotvnews.com, Jakarta: Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) mendesak pemerintah untuk segera menuntaskan kasus peredaran beras sintetis di beberapa daerah. Peredaran beras tersebut sangat merugikan masyarakat, dan berdampak buruk terhadap kesehatan.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) HIPPI Suryani Motik mengatakan, awalnya beras berbahan sintetis itu ditemukan di Pasar Bekasi, namun kini telah merambah ke banyak wilayah di Indonesia, mulai dari Sumatera hingga Bali.

Hal itu, lanjutnya, tentu sangat membahayakan bagi kesehatan masyarakat, sekaligus juga ketahanan pangan nasional. Pasalnya, dari total 250 juta penduduk Indonesia, mayoritas mengkonsumsi beras sebagai makanan utamanya. 

"Oleh karena itu, kami mendesak pemerintah untuk segera menuntaskan kasus beras plastik yang sudah sangat meresahkan masyarakat," ujar dia, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Sabtu (23/5/2015).

Menurut dia, beredarnya beras sintetis terjadi karena ketidakseimbangan antara 'supply and demand' beras di dalam negeri, atau  tingginya permintaan beras masyarakat tidak diimbangi oleh pasokan  yang memadai. Itulah sebabnya Indonesia seringkali melakukan impor beras, khususnya menjelang hari besar keagamaan.

"Akibatnya, banyak sekali terjadi masalah dalam sistem perberasan kita. Apalagi, pola makan rakyat Indonesia selalu mengutamakan beras sebagai makanan utama," jelas dia.

Karena itu, pihaknya terus mendorong anggota HIPPI untuk meningkatkan produksi beras bagi ketahanan pangan nasional, sehingga permasalahan masuknya beras sintetis seperti ini tidak terulang kembali. Apalagi, tambahnya, produksi beras anggota HIPPI berkualitas baik bagi konsumen, termasuk masyarakat Indonesia.

"Kami pastikan untuk meningkatkan produksi beras nasional sebagai upaya HIPPI mendukung ketahanan pangan. Sekaligus HIPPI akan meningkatkan sumber pangan lainnya sebagai upaya diversifikasi pangan nasional, seperti jagung dan umbi-umbian. Intinya, kami ingin berbuat terbaik bagi rakyat Indonesia," tutup dia.


(ABD)