Pengamat : Anas Makin Berani Melawan SBY

- 07 Februari 2013 16:31 wib
<p><span class=Anas Urbaningrum--ANTARA/Irsan Mulyadi/bb

" />

Anas Urbaningrum--ANTARA/Irsan Mulyadi/bb

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengamat Politik Tjipta Lesmana menyakini Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono pasti berani melengserkan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Konflik antara dua kubu pun semakin terbuka.

"SBY selama ini kan agak ragu dan santun. Saya yakin kali ini berani," kata Tjipta di sela-sela peluncuran buku "Bola Politik dan Politik Bola, Ke mana Arah Tendangannya? di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (7/2).

Tjipta meyakini langkah Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat Jero Wacik dan anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Syarief Hasan sudah mengontak SBY, sebelum meminta Anas mundur. Bahkan tindakan keduanya adalah permintaan SBY.

"Ini makin dekat 2014. Caranya gak ada cara lain pasti akan terjadi Kongres Buar Biasa. Itu bisa terjadi. Saya yakin Pak SBY bisa mengumpulkan kekuatan," kata Tjipta.

Tindakah SBY ini, kata Tjipta, mendapat tekanan dari pendukung Anas di tingkat akar rumput. Sebab kekuatan Anas sendiri tak bisa disepelekan.

"Tapi demi kepentingan partai SBY pasti bertindak," ujarnya.

Selain melengserkan Anas dari kursi Ketua Umum, SBY juga berharap Anas mundur. Namun itu tak akan terjadi karena Anas melawan. Mantan Ketua Umum HMI itu pun sudah sangat berani dengan membuat status Sengkuni yang berarti penasihat jahat. Anas juga membuat pernyataan bahwa elektabilitas Partai Demokrat merosot bukan karena dirinya seorang, tapi kinerja pemerintahan Presiden SBY.

"Sekarang tinggal kalkulasi kekuatan," kata Tjipta.

Meski SBY mendapat perlawanan Anas, Tjipta meyakini pada akhirnya SBY yang akan menang. Sebab SBY lebih kuar dari Anas.

"Anas tidak akan turun. Dia tidak akan turun. Tapi Anas pada akhirnya turun," kata Tjipta.

Menyoal permintaan SBY kepada Komisi Pemberantasan Korupsi agar memperjelas status Anas dalam kasus Wisma Atlet Hambalang, Tjipta memastikan itu tanda SBY galau dan was-was. Walau langkah SBY itu sudah melanggar independensi KPK.

"Ini maha gawat," kata Tjipta.(Andhini/Dsy)

()

KETUA Umum Partai Persatuan Pembangunan Suryadharma Ali tetap tak menghadiri Musyawarah Kerja Nasional…