Tjokroaminoto

Tjokroaminoto dan Perbaikan Citra Ronggeng

Hardiat Dani Satria    •    Rabu, 27 May 2015 12:03 WIB
hos tjokroaminoto
Tjokroaminoto dan Perbaikan Citra Ronggeng
Penulis Buku Aji Dedi Mulawarman (kiri) saat pelucuran buku jang Oetama : Jejak dan Perjuangan HOS Tjokroaminoto. Foto: MI/Mohamad Irfan.

Metrotvnews.com, Jakarta: Pada zaman penjajahan Belanda, banyak keluhuran budaya bangsa Indonesia yang dicitrakan buruk oleh kompeni. Perspektif buruk terhadap budaya bangsa itu sebagian besar tertuang dalam buku History of Java karya Stamford Raffles.

 
Salah satu budaya di Jawa yang dikonotasikan buruk oleh para penjajah adalah kesenian tarian berupa Tayub atau biasa disebut Ronggeng. Kesenian tarian untuk hiburan masyarakat Jawa itu dicap rendahan oleh para penjajah. Padahal kebudayaan Jawa, bagi agama Hindu dan Islam adalah kekayaan budaya yang sakral dan luhur kedudukannya.
 
“Belanda jelas meletakkan budaya asli sebagai ‘jijik’, ‘budak’, dan ‘pinggiran’. Maka jelas bahwa kedudukan Belanda waktu itu terkait stigma Tayub, Tandak, atau Ronggeng adalah segala bentuk kejelekan, sampah, pinggiran, dan tidak dalam ruang keberadilan,” ujar Aji Dedi Mulawarman, penulis buku Jang Oetama: Jejak dan Perjuangan HOS Tjokroaminoto.

Bahkan, orang Belanda menstigma orang Jawa biasa, apalagi Tayub, Tandak atau Ronggeng sebagai simbol seksualitas yang vulgar seperti pelacur dan tempat penindasan seks secara terbuka. Akibat adanya stigma ini, kemudian pemerintah Belanda mengeluarkan aturan formal tentang prostitusi di Jawa pada 15 Juli 1852.
 
Muak dengan representasi negatif itu membuat HOS Tjokroaminoto ingin mengubah stigma yang melekat pada Ronggeng. Tjokro yang lahir dan hidup dalam suasana kesenian Jawa, tidak terima atas perlakuan Belanda tersebut dan membentuk sebuah gerakan perlawanan.
 
“Pak Tjokro mulai menghancurkan simbol negatif Tayub, Tandak atau Ronggeng dan mengembalikannya menjadi bermakna religius sekaligs memiliki nilai lokal yang berkedudukan tinggi,” kata Dedi.
 
Maka dari itu, Tjokro mendirikan gerakan Djawa Dwipa pada Maret 1917. Gerakan ini merupakan suatu program dari Sarekat Islam (SI) untuk mendekatkan perjuangan organisasi  dengan rakyat.
 
“Melalui Djawa Dwipa itu pula, Pak Tjokro melakukan pendekatan intens ke masyarakat bawah untuk menggalang keanggotaan SI, serta mencoba tetap melestarikan identitas nusantara,” jelas Aji.
 
Tujuan utama dari gerakan Djawa Dwipa ini adalah menghapus stigma ‘jorok’ Belanda atas budaya Jawa dan stigma anti Islam. Muara perjuangannya adalah supaya masyarakat sadar dan lepas dari upaya pemecahbelahan, penghancuran budaya, dan tereduksinya nilai-nilai Islam.

(ADM)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

1 week Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA