Bisnis Gerabah Kasongan Menggeliat setelah Gempa Yogyakarta

Patricia Vicka    •    Rabu, 27 May 2015 14:37 WIB
dunia usaha
Bisnis Gerabah Kasongan Menggeliat setelah Gempa Yogyakarta
Gerabah hasil pengrajin di Desa Kasongan, Bantul, diekspor ke luar negeri, Metrotvnews.com/ Patricia vicka

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Gempa 26 Mei 2006 membuat Desa Kasongan, Bantul, Yogyakarta, porak poranda. Bisnis kerajinan gerabah dari desa tersebut pun lumpuh total. Namun seiring waktu, warganya bangkit. Bisnisnya pun kembali bergeliat hingga ke mancanegara.

Nangsib Muhhadi Suprojo, warga Desa Kasongan, masih ingat betul bencana mengerikan yang terjadi sembilan tahun lalu itu. Gempa berskala 5,9 Richter meluluhlantakkan kampungnya.

"Keadaan setelah gempa, benar-benar mengerikan. Ribuan rumah roboh dan rata dengan tanah. Warga lari pontang panting menyelamatkan diri. Ada juga yang meninggal dunia karena tertimpa bangunan," tutur pria yang mengenakan seragam batik berwarna biru tua ini pada Metrotvnews.com, di Kasongan, Bantul, Yogyakarta, Selasa (26/5/2015).

Ketakutan terus bertambah. Ancaman gelombang tsunami menyebar. Warga panik.

"Warga berhamburan dan berlari ke tempat lebih tinggi," tutur Nangsib.

Setelah gempa, Desa Kasongan lumpuh. Warga mengungsi. Mereka juga menyembuhkan luka trauma akibat guncangan tersebut.

"Bupati mencoba menyemangati kami untuk bangkit kembali. Ia menyarankan kami untuk mengumpulkan semua barang kerajinan yang masih tersisa dan tidak rusak," ucapnya.

Perlahan, warga yang masih berduka mulai mencoba bangkit. Mereka kembali menjalankan bisnis gerabah tanah liat.

"Kami dibantu oleh dinas perindagkop untuk mendapatkan modal dan donatur. Pemerintah melalui dinas-dinas terkait berhasil menggandeng 13 BUMN dan mendapatkan bantuan dari puluhan perusahaan untuk membantu kami," katanya.

Bantuan yang diberikan oleh para donatur berupa bahan baku, alat pembuat tanah, dan pembangunan tempat kerja. Warga pun tak mau menyia-nyiakan bantuan tersebut.

"Untuk modal, para tetua di desa kami juga melobi bank agar mau memberikan kredit lunak pada kami. Sehingga kami bisa kembali berproduksi dan memasarkan barang," jelas pria yang berprofesi sebagai pengrajin gerabah ini.

Kini perlahan tapi pasti, usaha kerajinan gabah di desa Kasongan kembali bangkit. Bahkan jumlah pengrajin bertambah sesudah gempa terjadi.

"Usaha kami kini sudah bangkit, lebih maju dibanding sebelum gempa. Bahkan banyak pendatang tinggal disini karena tertarik menjadi pengrajin. Produk kami kini 60 persennya sudah diekspor ke luar negri seperti Amerika, Eropa dan Australia," pungkasnya.

Patricia Vicka


(RRN)